Ribuan Pelajar Konsumsi di Sekolah
Oleh: Indopos/Humas BNN
[21 November 2006]
Genderang perang terhadap narkoba terus ditabuh. Kali ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) membuat gebrakan dengan mendeklarasikan duta antinarkoba dari kalangan pelajar, kemarin (20/11). Seluruh perwakilan sekolah dari lima kawasan di Jakarta menjadi utusan untuk memerangi narkoba ini.
Deklarasi ini dilakukan karena angka kasus tindak pidana narkoba di kalangan pelajar sudah sangat mengkhawatirkan. Dari data BNN, hingga Oktober 2006, sedikitnya 15.758 anak usia sekolah menjadi keganasan narkoba. Dengan rincian, SD 227 orang, SLTP 4.012 orang, SLTA 11.089 orang dan Perguruan Tinggi 433 orang.
"Itulah mengapa pembentukan duta antinarkoba di kalangan pelajar ini sangat penting. Sebab usia sekolah itu sangat rentan menjadi korban narkoba," ujar Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN Komjen Pol Made Mangku Pastika usai mendeklarasikan duta antinarkoba di Gedung BNN kemarin (20/11).
Banyaknya korban narkoba di kalangan pelajar disebabkan anak usia sekolah masih memiliki mental sangat labil. Sementara, serangan para pelajar dan pengaruh dari luar begitu kuat. Praktis, anak usia sekolah ini menjadi sasaran empuk. Sehingga, menurut pria asal pulau Dewata ini, deklarasi duta antinarkoba di kalangan pelajar memiliki urgensi. Minimal, para pelajar dengan menjabat sebagai duta antinarkoba bisa mengatakan tidak untuk narkoba.
Selanjutnya, jika memungkinkan, para pelajar ini bisa memengaruhi teman-temannya untuk tidak mengonsumsi narkoba. "Ini terus kami upayakan demi mencegah peredaran narkoba," ungkap dia.
Dijelaskan Made, untuk bisa mengurangi peredaran narkoba diperlukan tiga hal. Yakni penegakan hukum dengan mengurangi jumlah permintaan (demand reduction), pengawasan terhadap peredaran (supply control) dengan cara penangkapan serta memberikan perawatan bagi yang telah menjadi korban. Selain itu, diperlukan sebuah penyadaran. Baik lewat pendidikan umum maupun agama. Sehingga, ketahanan para pelajar akan bahaya narkoba bisa ditingkatkan.
Sementara itu, Kepala Pusat Dukungan Pencegahan Narkoba BNN Brigjen Pol Puji Waluyo mengatakan, hingga saat ini, penduduk Indonesia yang mengonsumsi narkoba sudah mencapai 3,6 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 1,5 persen adalah kalangan pelajar. Bahkan, sediktnya 15 ribu jiwa per tahun, para korban narkoba ini dinyatakan meninggal. "Penyebabnya macam-macam. Ada yang karena HIV/AIDS, over dosis, dan bunuh diri," bebernya.
Sulitnya pemberantasan peredaran narkoba ini disebabkan belum adanya sosialisasi menyeluruh di tingkatan masyarakat bawah (grass root). Sehingga, banyaknya para bandar, cukong yang merasuki masyarakat belum bisa dicegah secara maksimal. "Di samping dengan cara penegakan hukum, masyarakat juga harus bisa mencegah. Minimal diri sendiri," tukasnya.
Dengan kesadaran menyeluruh ini, jumlah korban bisa dicegah sejak dini. "Inilah mengapa para pelajar menjadi penting bagi kampanye antinarkoba ini," pungkasnya.
Menurut pengakuan para pelajar, pembentukan duta antinarkoba tersebut sangat penting. Sebab, banyak di antara para pelajar di sekolah yang mengonsumsi narkoba secara tersembunyi di sekolah. Sementara, pihak sekolah sendiri belum melakukan tindakan nyata dalam pencegahan. "Di sekolah kami sepertinya ada yang mengonsumsi narkoba. Cuma kami tidak tahu karena mereka tersembunyi," ujar SMA 92, Jakarta Utara.(aak)