Artikel
Deputi PencegahanMencegah Penyalahgunaan Narkoba, Di Rumah Orangtua Harus Bisa Jadi Teman Bagi Anak-Anaknya
Maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan anak-anak (muda) selayaknya orangtua melakukan introspeksi. Jangan hanya menyalahkan pergaulan anak tetapi juga perlu dilihat bagaimana orangtua memperlakukan anak-anaknya. Orangtua sekarang dituntut untuk lebih peka dan terbuka terhadap perubahan keadaan sekelilingnya, terutama yang menyangkut kebutuhan anak-anak.
Jaman sekarang memang bukan jaman Siti Nurbaya. Hubungan orangtua dengan anak jaman sekarang harus lebih terbuka, demokratis tanpa meninggalkan adat, tata krama (etika). Dan, faktanya anak-anak sekarang masih memandang orangtuanya sebagai sosok pribadi yang harus dihormati, disegani, dan menjadi panutan sikap tingkah lakunya.
Di era globalisasi sekarang, orangtua mempunyai beban tanggungjawab yang besar untuk dapat menjaga, membesarkan, melindungi anak-anaknya dengan penuh perasaan cinta.
Khalil Gibran dalam The Prophet (Sang Nabi) menulis, "Anakmu bukan milikmu. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. … Lewat engkau mereka (anak-anak) lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu. … "
Para orangtua berpendapat memiliki anak adalah anugerah cinta dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan tak ternilai besarnya bagi setiap keluarga. Tuhan menitipkan anak-anak kepada para orangtua mereka untuk menjaga dan membesarkannya agar dikemudian hari mampu menjadi penerus kehidupan dan penghuni masa depan bumi dan dunia.
Kasih sayang orangtua akan menolong anak merasa bahagia, nyaman dan baik. Menurut Tom Bodett, seseorang hanya membutuhkan tiga hal untuk benar-benar menjadi bahagia di dunia ini, seseorang yang dicintai, sesuatu yang dilakukan, dan sesuatu yang diharapkan.
Namun Raymond Holliwell berpendapat, jika anda sanggup memberikan yang terbaik, maka anda akan menerima yang terbaik. "Kualitas tidak pernah terjadi secara insiden, tetapi buah dari perhatian yang tinggi, usaha yang tulus, arah langkah yang tajam, dan tindakan yang sudah diasah dengan keahlian," kata Bob Desseker.
Indonesia saat ini sedang menghadapi situasi serius perihal penyalahgunaan narkoba dan peredaran narkoba yang terus meningkat. Peningkatan tersebut tentunya menjadi ancaman terhadap berbagai aspek kehidupan dan masa depan bangsa Indonesia. Karena, dampak dari permasalahan penyalahgunaan narkoba dan peredaran narkoba sangat luas, termasuk menyangkut aspek kehidupan seperti kesejahteraan, ekonomi, sosial, politik, ketertiban dan keamanan.
Berdasarkan data, kelompok usia yang terlibat dalam masalah penyalahgunaan narkoba dan peredaran narkoba antara usia 15 sampai 29 tahun, dan usia termuda penyalahguna barkoba semakin dini, yaitu usia tujuh tahun. Pada anak-anak kelompok usia sekolah dasar (SD) menunjukkan sudah mulai coba-coba narkoba.
Wajar jika hal ini membuat para orangtua merasa miris sekaligus khawatir melihat ancaman, dampak dan bahaya dari meningkatnya penyalahgunaan narkoba tersebut. Karena itu segala daya upaya bangsa ini tak henti-hentinya berjuang untuk menyelamatkan anak bangsa supaya tidak terjadi lost generation akibat dampak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Peran orangtua menjadi sangat penting. Dalam menghadapi permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang setiap waktu mengintai masyarakat (keluarga) pada saat mereka lengah maka orangtua dituntut untuk bersikap tegas, lugas, disiplin dan waspada dengan cara memasang mata, telinga dan buka mulut untuk melakukan pencegahan semaksimal mungkin dengan melaporkan kepada pihak berwenang.
Berkembang Lebih Cepat
Banyaknya anak bangsa yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tidak terjadi secara otomatis. Namun, jika dicermati ada satu proses dimana mereka (anak-anak) telah mengalami ketertarikan yang disebabkan oleh kemajuan teknologi sehingga anak-anak menjadi mudah memperoleh dan mengakses informasi melalui media elektronik yang telah mengubah dunia menjadi semakin global.
Teknologi informasi yang mendunia itu, seperti, adanya internet, handphone 3G, android, ipad, ipod, dan sebagainya yang online sepanjang waktu dalam genggaman penggunanya mengubah pola pikir, pengetahuan, informasi tidak hanya positif tetapi juga yang negatif mudah diakses.
Dalam pergaulan atau pertemanan pun mereka tidak lagi harus bertatap wajah langsung (face to face) tetapi bisa melalui media teknologi informasi canggih tersebut. Untuk komunikasi pergaulan mereka tersedia fasilitas, seperti facebook, SMS (short message service), YM (yahoo messanger), BBM (black berry messanger) dan sebagainya, yang pada akhirnya membentuk komunitas-komunitas "gadged" sehingga banyak informasi mengalir tidak ada batasnya lagi.
Kemajuan teknologi informasi dan "dunia maya" telah mengubah dunia menjadi benar-benar semakin global. Sebab kejadian di belahan dunia (negara) lain dapat diketahui secara cepat melalui internet.
Perkembangan teknologi dan globalisasi informasi yang sedemikian pesat membawa dampak pada perubahan tata nilai dalam kehidupan keluarga maupun sosial masyarakat. Seperti diantaranya terjadi perubahan selera, gaya hidup masyarakat yang membuat orang menjadi individualitik, egois, matrialis, dan duniawi yang semuanya cenderung menyebabkan hidup dalam ketegangan psikis, stress, frustrasi, cemas karena suasana batinnya tidak pasrah, terburu-buru dan tidak enjoy serta tidak mau peduli dengan keadaan orang lain.
eharusnya kemajuan teknologi dan informasi itu dapat dimanfaatkan seluas-luasnya dan diberdayakan untuk hal-hal yang mulia, seperti sosialisasi pencegahan dan bahaya penyalahgunaan narkoba. Dengan memanfaatkan teknologi informasi yang canggih itu sebenarnya masyarakat dapat membantu aparat berwenang dalam menangani penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba secara cepat sehingga dapat dilakukan langkah-langkah penindakan secara tepat sasaran.
Fakta lain menunjukkan, ada kecenderungan anak-anak sekarang menjadi lebih cepat dewasa dibandingkan usia mereka sebenarnya. Jika masa puber anak-anak (remaja) jaman dulu pada usia antara 15 - 17 tahun maka usia kematangan anak-anak sekarang bisa lebih awal lima tahun, atau sekitar usia 10 - 12 tahunan.
Salah satu dampak negatif dari percepatan usia kematangan tersebut, yaitu menimbulkan kerentanan terhadap perilaku menyimpang, termasuk penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan narkoba termuda tercatat pada usia penyalahgunaan narkoba 7 tahun.
Masa remaja bagi anak-anak harus diakui sebagai masa-masa indah karena mereka memiliki dorongan keingintahuan akan segala sesuatu yang tinggi, suka berpetualang, suka mencoba-coba atau bereksperimen, ingin unjuk keberanian melawan tantangan sekalipun beresiko. Sesungguhnya mereka sedang memasuki tahapan masa labil sehingga anak-anak seusia tersebut rawan oleh pengaruh dari luar.
Para ahli menyebutkan, masa remaja secara psikologis merupakan periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju ke proses masa dewasa. Periode itu sering juga disebut sebagai masa pencarian jati diri. Dimana semangat dan jiwa mereka sedang meledak-ledak untuk memperoleh pengakuan dan kepercayaan dari orang lain.
Disamping itu seringkali pula muncul gejolak psikologis lainnya, seperti sikap memberontak pada orangtua. Atau menolak untuk melakukan segala sesuatu yang mereka anggap mengekang dirinya, seperti misalnya masalah nilai, norma, peraturan yang dibuat sebenarnya untuk tujuan kebaikan bersama.
Namun ada yang perlu para orangtua ketahui dan waspadai, rasa solidaritas pada anak-anak (remaja) terhadap kelompok sebaya seringkali mengalahkan sikap kepatuhan mereka terhadap perintah orangtua. Akan sangat berbahaya jika lingkungan pergaulan kelompok sebaya yang mereka pilih keliru. Artinya anak-anak masuk ke dalam lubang mulut singa dan dapat saja menjadi penyalahguna narkoba.
Sebab, perlu diwaspadai kelompok sebaya yang tidak baik itu dapat menjadi kelompok penekan bagi anggotanya untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum, seperti, misalnya melakukan tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya. Pada umumnya, lingkungan pergaulan teman sebaya mempunyai daya pengaruh kuat, daya paksa untuk melakukan sesuatu yang tidak rasional sekalipun.
Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkoba
Seperti diketahui, ada tiga faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi penyalahguna narkoba. Faktor pertama adalah faktor individunya sendiri, yaitu karena memiliki kepribadian yang kurang matang yang disebab oleh pola asuh orangtuanya dalam keluarga kurang memberikan kasih sayang. Perlu ditegaskan disini, bahwa pola hidup keluarga dimana termasuk di dalam pola asuh orangtua terhadap anak sangat berpengaruh besar pada pembentukan dan perkembangan kepribadian anak.
Faktor kedua adalah faktor lingkungan tempat tinggal individu yang memungkinkannya untuk melakukan penyalahgunaan narkoba, antara lain keluarga tidak utuh, suasana rumah carut marut, kurang adanya komunikasi satu sama lain, hubungan keluarga terputus. Orangtua terlalu melindungi dan menyayangi anak berlebihan, orangtua terlalu berharap besar pada anak di luar batas kemampuannya, atau salah satu atau pun kedua orangtuanya penyalahguna akan mempengaruhi kebiasaan anak-anaknya karena dianggap wajar dan tidak ada yang mengingatkan atau mencegah.
Dan, faktor ketiga adalah faktor lain yaitu kemudahan atau ketersediaan narkoba sehingga mereka mudah memperoleh narkoba. Meskipun aparat sering melakukan penggerebekan namun pengedar-pengedar eceran tetap berkeliaran dan para penyalahguna sudah mengetahui tempat-tempat dimana mereka bisa mendapatkan narkoba.
Perlu ditegaskan, narkoba bukan obat untuk menyembuhkan penyakit tetapi narkoba adalah racun yang mampu membuat penyalahgunanya meninggal dunia. Penyalahgunaan narkoba akan memberikan dampak buruk bagi individu penyalahgunanya. Narkoba dapat dikategorikan sebagai zat yang mempunyai efek pada sistem syaraf pusat terhadap penyalahgunanya.
Penyalahgunaan narkoba akan dapat mempengaruhi kondisi psikologis penyalahgunanya, baik mempengaruhi perasaan, pikiran, perilaku, dan juga dapat menimbulkan ketergantungan baik secara phisik maupun psikologis penyalahgunanya.
Dampak buruk dari penyalahgunaan narkoba terhadap individu penyalahgunanya dapat berakibat menderita gangguan kesehatan, baik secara phisik, mental, sosial, spiritual, sampai dengan penderitaan berkepanjangan.
Dampak buruk lainnya adalah dapat terjadi gangguan fungsi yang antara lain dapat menyebabkan gangguan padai fungsi-fungsi organ vital, seperti halnya otak, jantung, ginjal, hati, paru-paru, pun alat reproduksi yang dimiliki wanita.
Tidak hanya itu, penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik secara bergantian dengan orang lain berpotensi dapat tertular penyakit Hepatitis B, Hepatitis C atau HIV/AIDS. Akibat dari penyalahgunaan alat yang tidak steril dapat menimbulkan komplikasi medik. Dan, bahkan untuk mereka yang sudah akut dapat meninggal secara sia-sia karena narkoba tidak ada obatnya di dunia ini. Orang bijak mengatakan, lebih baik mencegah dari pada mengobati.
Menjadi Teman Bagi Anak
Dalam banyak kasus penyalahgunaan narkoba, tidak sedikit anak-anak yang terlibat disebabkan karena kehilangan kasih sayang orangtua. Mereka mengaku keluarganya tidak harmonis, bapak-ibunya sering cek-cok atau bahkan berantam di depan anak sehingga anak tertekan dan merasa ketakutan.
Ada pula yang mengatakan rumah tangga orangtuanya berantakan karena bapak -ibunya bercerai sehingga membuat anak-anak broken home sebab tidak ada lagi kehangatan dan belaian kasih orangtua yang mereka cintai tanpa mengetahui alasan terjadinya perceraian. Juga ada yang mengemukakan, dirinya tidak memperoleh kasih sayang bapak-ibunya karena masing-masing sibuk dengan pekerjaan di kantor masing-masing dan anak dibiarkan berkembang sendiri tanpa pendampingan orangtua.
Menghadapi berbagai permasalahan berat tersebut, para orangtua hendaknya berani bersikap tegas, arif bijaksana, dan berupaya melindungi anak-anaknya dari berbagai ancaman dan pengaruh buruk oleh resiko sebuah kemajuan.
Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di rumah hendaknya dilakukan secara mandiri. Sebagai contoh, orangtua memberikan pendidikan keluarga yang tepat agar memungkinkan anak-anak tumbuh dewasa dengan memiliki psikologis yang stabil. Orangtua harus mengenali anak-anaknya secara utuh dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkembang dari setiap anak, seperti misalnya phisik, intelektual, emosional dan spiritual yang mereka miliki.
Menurut John Pearce dalam bukunya "Bad Behaviour, Tantrums and Tempers" menyatakan, orangtua mempunyai harapan tertentu tentang bagaimana anak mereka harus berperilaku dan orangtua manapun akan bahagia apabila harapannya selalu tercapai. Hidup jauh lebih sulit dari ini, karena anak seringkali mempunyai pendapat berbeda, begitu pula anggota keluarga yang lain dan para teman. Namun, standar perilaku yang ditetapkan orangtua penting sebagai pedoman bagi anak untuk mengerti apa yang dapat dan tidak dapat diterima.
Tugus orangtua untuk mengasuh, membesarkan, mendidik, dan mengembangkan talenta mereka agar memiliki kepribadian tidak ada cela. Untuk itu anak-anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, perasaan aman dan nyaman terlindungi, hubungan yang harmonis orangtua dan anak, diberi kebebasan mengemukakan pendapat rasional, berkata jujur, dihargai dan dipercaya untuk meraih prestasi.
Dengan memberikan pendidikan keluarga yang baik kepada anak akan berkembang menjadi seorang dewasa yang membedakan perbuatan yang baik dan buruk, memiliki psikologis dan kepribadian yang stabil, bertanggungjawab dan mampu melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi pribadi yang bersangkutan, keluarga dan masyarakat.
Pendidikan keluarga sering menjadi tidak efektif dan berdampak jangka panjang akibat kesalahan orangtua dalam mengasuh. Oleh karena itu orangtua penting menguasai dasar-dasar mendidik anak, cara penerapan mendidik sehari-hari, kemudian sikap orangtua harus bijak kapan harus tegas dan kapan harus kompromi, serta harus mampu memahami psikologis anak.
Munculnya ancaman dan peningkatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang membuat keprihatinan serius orangtua harus bekerja ekstra keras untuk dapat mendampingi anak-anaknya untuk melakukan kegiatan baik di rumah maupun yang dilakukan di luar rumah agar supaya munculnya perilaku menyimpang dan anti sosial yang terjadi pada anak yang baik (normal) dapat dicegah atau diminimalisir.
Di rumah, orangtua sekarang harus bisa menjadi teman sekaligus sahabat bagi anak-anaknya ketika di rumah. Elbert Hubbard berpendapat, teman anda adalah orang yang mengetahui seluruhnya tentang anda dan tetap menjadi teman anda. Karena tuntutan jaman, orangtua sekarang berkewajiban menjadi sahabat dan teman baik bagi anak-anaknya, terutama saat di rumah.
Anjuran pakar pendidikan, hal yang mutlak dilakukan orangtua terhadap anaknya yaitu melakukan komunikasi. Saluran-saluran yang tersumbat hendaknya dibersihkan sehingga dengan komunikasi jujur, terbuka dan lancar anak akan menjadi lebih bahagia dari pada kecukupan harta.
Sebagai teman dan sahabat bagi anak -anaknya, tugas orangtua tidak saja cukup menemani anak melakukan kegiatan di lingkungan rumah tetapi juga bersedia mendengarkan keluh-kesah, pendapat anak-anak yang diutarakan secara tulus, jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi dan tidak ada perasaan takut atau perasaan bersalah.
ugas orangtua lainnya, harus mampu memberikan solusi atau jalan keluar atas masalah yang dihadapi anak. Serta memberikan dukungan kepada anak-anak (yang bersangkutan) agar suasana hatinya menjadi lebih tenang, tegar dan mampu mengatasi masalah secara bertanggungjawab.
Joseph Joubert mengingatkan kepada para orangtua, anak-anak lebih membutuhkan teladan dari pada kecaman. Dan, Harold S. Hulber mengatakan, anak-anak membutuhkan cinta, terutama bila mereka tidak layak menerimanya.
Dengan kesediaan para orangtua menjadi teman anak-anaknya di rumah, mungkin hanya dengan nonton televisi, atau menemani belajar anak akan merasa diperhatikan dan dekat dengan orangtuanya. Anak akan semakin mudah untuk melakukan komunikasi dengan orangtuanya secara positif.
Kasih sayang orangtua kepada anak-anaknya dapat diwujudkan dengan cara aman, yaitu memberikan dorongan dan restu kepada anak untuk melakukan kegiatan alternatif seperti olahraga, bermain musik, hunting foto, dan sebagainya. Dorongan lainnya bisa pula dengan mengajarkan untuk berpola hidup sehat, berperilaku bertanggungjawab, mengembangkan talenta anak, menanamkan percaya diri. Mencegah pengaruh iklan media massa, mengajarkan cara-cara menolak dan menjelaskan bahaya dan dampak buruk yang dapat ditimbulkan akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, dan memantau pergaulan anak untuk melindungi dari jerat-jerat pelanggaran hukum.
Hal yang tidak kalah penting, orangtua hendaknya berusaha untuk menjadi tempat "curhat" (curahan hati) bagi anak-anaknya, dan anak-anak tidak mencari tempat "curhat" lain pada orang lain secara sembarangan. Membiarkan anak menumpahkan perasaan hati, pendapatnya secara bebas akan melegakan perasaan dan bebannya yang tidak pernah orangtua ketahui. Setelah anak puas menumpahkan uneg-uneg dan permasalahan yang dihadapi berikanlah dukungan spirit dengan misalnya, memeluk sambil memberikan ulusan ringan yang tidak memberikan beban tetapi juga member solusi untuk permasalahan yang sedang anak hadapi.
Sebab, dalam kondisi-kondisi lemah seseorang semacam itulah orang-orang tidak bertanggung jawab senang sekali untuk menjerat dengan narkoba.
Pencegahan Dilakukan Orangtua
Para orangtua (masyarakat) perlu memberikan apresiasi dan bersyukur atas kerja aparat penegak hukum yang secara serius melawan narkoba di awal tahun 2012. Narkoba senilai Rp 308 milar dengan barang bukti berupa 350 ribu pil ekstasi, 50 kg shabu, dan 56,5 kg ganja diamankan aparat Kepolisian RI. Dengan diamankannya barang terlarang dahsyat itu, artinya satu juta jiwa anak (bangsa) Indonesia telah dapat diselamatkan.
Permasalahan narkoba sekarang ini telah menjadi ancaman dan keprihatinan bersama. Bahkan, dapat dikategorikan sebagai kejahatan transnasional crime yang hanya bisa dihadapi dengan melakukan kerjasama oleh semua komponen bangsa Indonesia juga bekerjasama dengan dunia internasional dalam menanggulanginya.
Setiap tahun korban penyalahgunaan narkoba terus bertambah seiring dengan perkembangan hidupan di dunia ini menjadi permasalahan utama. Kerja keras Badan Narkotika Nasional (BNN) dan aparat kepolisian untuk mewujudkan Indonesia bersih dari narkoba selalu disambut oleh para pelaku kejahatan (sindikat) narkoba yang tidak pernah takut dan jera melakukan perdagangan gelap di negeri tercinta ini.
Untuk itu masyarakat dan bangsa ini harus lebih paham dan sadar, khususnya para orangtua dapat melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba di rumah secara efektif. Caranya pun tidak sulit untuk diterapkan di setiap keluarga di rumah.
Berikut ini langkah-langkah atau program sederhana untuk dikerjakan para orangtua di rumah.
· Menciptakan keadaan rumah yang bersih, sehat.
· Menciptakan hubungan antar anggotanya yang serasi dan harmonis.
· Menciptakan keluarga yang penuh dengan perhatian, cinta dan kasih sayang.
· Menciptakan komunikasi terbuka antara orangtua dan anak.
· Mengasuh, memberikan pendidikan yang baik demi masa depan anak.
· Menjadi panutan (teladan) anak, orangtua harus sentiasa mengajarkan hal-hal yang baik. Perilaku orangtua sering menjadi inspirasi anak.
· Menyusun peraturan keluarga yang disepakati bersama untuk melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan keluarga.
· Mengawasi dan memantau anak dan teman-temannya, dimana mereka berada, melakukan apa disana, dengan siapa saja mereka melakukan kegiatan dan siapa yang bertanggungjawab, dan sebagainya.
· Mengikuti perkumpulan orangtua untuk saling tukar-menukar informasi sehingga terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki mudah untuk mengatasi atau melakukan pencegahan sebelum terjadi sesuatu yang tidak dinginkan.
"curhat"
Semoga dengan semakin meningkatnya kesadaran orangtua untuk mandiri melakukan pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, bangsa Indonesia bisa mewujudkan komitmennya “Indonesia Bebas Narkoba 2015”.
call center 021-80880011
sms center 081-221-675-675
- Online
- Unique Visitor
- Download file
- Per Unit Kerja
- Sekertaris Utama
- Inspektur Utama
- Deputi Pemberantasan
- Deputi Pencegahan
- Deputi Rehabilitasi
- Deputi Pem. Masyarakat
- Deputi Hukum&Kerjasama
- Puslitdatin
- UPT T&R LIDO
- UPT Diklat
- UPT LAB
- : 10 user
- : 6164
- : 30058
- : 269808
- : 207250
- : 149902
- : 106134
- : 60164
- : 38201
- : 31036
- : 29715
- : 18609
- : 16527
- : 13791
SEP
20
2011
Rapat Pokja
SEP
19
2011
Layanan One Stop Center (OSC)
AGS
25
2011
Ceramah Ramadhan
AGS
22
2011
Ceramah Ramadhan
-
07.b/V/2012/PENG-ULP/REHAB/BNN: Pelelangan Ulang Pekerjaan Pengadaan Makan Petugas Program Sebaru
-
06.b/V/2012/PENG-ULP/REHAB/BNN: Pelelangan Ulang Pekerjaan Pengadaan Makan Residen Program Sebaru
-
04.b/V/2012/PENG-ULP/REHAB/BNN: Pelelangan Ulang Pengadaan Makan Residen Program Tambling.
-
05.b/V/2012/PENG-ULP/REHAB/BNN: Pelelangan Ulang Pekerjaan Pengadaan Makan Petugas Program Tambling