Peran Keluarga Pulihkan Pecandu Dari Ketergantungan Narkoba

Oleh rudi qunsul | Sabtu, 26 November 2011 jam 09:15:04

 

SEKILAS tak ada yang akan menyangka gadis berpembawaan ceria bertubuh agak gemuk ini pernah menjadi seorang pecandu narkoba. Meski dilahirkan dalam keluarga harmonis dengan kondisi serba berkecukupan secara materi, Ganita, 28 (nama samaran), akibat rasa penasaran, memakai narkoba dalam usia yang masih sangat belia, 14 tahun.

"Saya memakai narkoba murni hanya didorong rasa penasaran dan kebingungan. Bingung untuk mencari cara bersenang-senang, sedangkan semua jenis hiburan sudah pernah saya rasakan. Jadi salah kalau orang beranggapan hanya anak bermasalah yang bisa terjerumus dalam ketergantungan narkoba," ujar Nita, begitu ia biasa dipanggil.

"Awalnya saya tertarik melihat efek kegembiraan, euforia yang ditimbulkan saat melihat pacar dan teman-teman terdekat mulai memakai narkoba," ujar Nita memulai ceritanya.

Selain itu, narkoba jenis putaw yang pertama kali ia cicipi itu terasa membuat dirinya menjadi lebih berani, percaya diri, kreatif, dan santai. Meski awalnya hanya ingin mencoba, tanpa disadari ia menjadi ketagihan dan terus melakukannya lagi berulang-ulang tanpa bisa berhenti.

Sejak itu, tak kurang dari Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah bisa ia habiskan per hari hanya untuk membeli beberapa gram putaw.

Padahal sekitar tahun 1998 saat itu, ia masih duduk di bangku kelas 2 di sebuah SMP swasta ternama di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

"Biasanya saya pakai narkoba sebelum masuk sekolah, jadi baru masuk setelah jam istirahat selesai. Begitu seterusnya berlangsung hampir setahun," kenang Nita.

Meski awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, akhirnya kebiasaan Nita memakai narkoba itu diketahui orang tuanya.

"Saya dan teman-teman yang pakai juga teman main di rumah. Orang tua kami sudah saling kenal, jadi ketika salah seorang dari kami ketahuan menjadi pemakai, semuanya langsung diinterogasi orang tua masing-masing," ujar Nita.

Ia kemudian dipindahkan ke SMP elite lainnya di kawasan Bintaro, Tangerang. Namun hubungan dengan pemasok putaw tetap berlangsung lancar, bahkan kini ia memiliki bandar tetap untuk menjaga pasokannya.

Sejak itu, ia sering keluar-masuk berbagai tempat rehabilitasi dengan beragam metode yang ditawarkan. Ia sempat mengurangi pemakaian hanya sekali setiap akhir pekan, namun hal itu tidak berlangsung lama.

"Saya selalu cari cara untuk bisa mendapatkan putaw sebanyak-banyaknya untuk ditimbun supaya saat butuh tidak perlu repot mencari," tutur Nita. Namun nyatanya, semakin banyak stok putaw yang ia miliki semakin tinggi frekuensi pemakaian putaw yang ia lakukan.

Demikian juga upaya kedua untuk menghentikan kebiasaan memakai narkoba itu tidak menunjukkan hasil. Hanya sekitar 3- 4 bulan Nita sempat berhenti mengonsumsi putaw. Setelah itu, hingga tamat SMA dan melanjutkan kuliah, Nita tidak pernah terputus dari ketergantungannya terhadap putaw. Tak mengherankan bangku kuliah pun akhirnya ia tinggalkan karena tidak bisa diikutinya dengan baik.

Kendati kucuran uang saku dari keluarga diperketat setelah ia ketahuan menjadi pecandu narkoba, Nita tidak kehilangan akal. Bakat seni desain yang ia miliki cukup untuk menjadi ladang pendapatan yang membuat pasokan putaw yang dibutuhkannya tetap terjaga kesinambungannya.

"Saat itu enggak ada hal lain yang lebih penting kecuali menjaga pasokan putaw. Bahkan tak jarang hasil kerja saya hanya dihargai dengan beberapa gram putaw," kenang Nita sambil tersenyum getir.

Patah Kaki Saat Sakaw

 

 Beragam pengalaman pahit pernah ia rasakan akibat ketergantungannya terhadap putaw. Selain pernah menjadi target operasi pemakai narkoba yang membuatnya harus berurusan dengan aparat kepolisian, Nita juga pernah mengalami patah tulang kaki saat dalam kondisi ketagihan putaw yang amat sangat, sakaw. Padahal saat itu ia menjalani terapi pemulihan dari ketergantungan putaw dan dikurung di dalam kamar.

"Saya sudah enggak bisa lagi menahan diri akhirnya nekat kabur menjebol internit kamar dan menyusup keluar lewat atap rumah," tutur Nita. Sialnya, lanjut Nita, saat lompat dari atap itu kakinya terpelintir hingga patah.

 

Setelah dibawa ke rumah sakit dan dioperasi pun ia masih berupaya untuk mendapatkan putaw. "Dengan kaki masih dibalut gips dan langkah tertatih-tatih, saya kabur dari rumah sakit karena badan sudah nagih putaw waktu itu," imbuh Nita.

Selama hampir 10 tahun lamanya, ia berkutat dengan ketergantungannya terhadap narkoba. Berbagai upaya yang dilakukan keluarganya untuk menariknya keluar dari ketergantungan itu tak pernah berhasil.

Selamatkan Diri-sendiri

Kegusaran keluarga terhadap kondisi Nita akhirnya berbuah keputusan untuk

membawanya ke tempat rehabilitasi di Lido, Bogor. Di pusat rehabilitasi itu, Nita tidak hanya diobati secara medis, namun juga diberikan beragam konseling yang sifatnya memulihkan kesadaran mental terhadap eksistensi dirinya. Istilahnya dual diagnosis.

"Di situ, saya seperti disadarkan bahwa hidup terlalu berharga hanya untuk dihabiskan di dunia khayal saat mengonsumsi putaw. Hanya saya pribadi yang bisa menentukan akan seperti apa saya di masa depan," ujar Nita. Hal lain yang membuatnya termotivasi untuk cepat lepas dari ketergantungan adalah dukungan keluarga.

"Ternyata selama ini saya tidak sadar apa yang saya lakukan justru membuat keluarga menjadi terpecah, semuanya merasa paling bersalah dan hubungan antar anggota keluarga menjadi buruk," tutur Nita. Perlahan ia mulai bisa mengurangi dosis hingga akhirnya mampu berhenti.

"Berkaca pada kegigihan saya dulu saat berusaha mendapat putaw, saya ingin membaliknya menjadi motivasi untuk mengejar kesuksesan dari apa pun yang saya kerjakan. Saya harus bisa menebus 10 tahun waktu yang terbuang itu dengan kesuksesan," pungkas Nita  yang berniat untuk kembali meneruskan kuliahnya yang tertunda.

 

Saat Keharmonisan Keluarga Tidak Lagi Berguna 

 Hasil survei Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) menunjukkan sekitar 60%-70% pecandu narkoba di Indonesia berasal dari keluarga baik-baik atau dapat dikatakan keluarga yang harmonis. Sementara itu, enam dari 10 penggunaan narkoba dilakukan di sekitar lingkungan rumah. Itulah hasil survei yang dilakukan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan narkoba ini terhadap 613 pecandu narkoba di 14 panti rehabilitasi.

"Ini tentunya fakta yang cukup mengejutkan. Artinya bahaya penyalahgunaan narkoba sudah sedemikian merasuki sendi kehidupan masyarakat hingga ke level keluarga," ujar Psikolog Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, Riza Sarasvita.

Karena itu, lanjut Riza, harus ada upaya yang lebih komprehensif untuk mencegah merembesnya penggunaan narkoba ke dalam unit terkecil masyarakat ini. "Pemberian informasi yang memadai tentang bahaya narkoba sedini mungkin untuk semua lapisan masyarakat mutlak harus dilakukan," ujar Riza.

Sebagai zat yang menyebabkan adiksi, ketergantungan proses pemulihan seorang pengguna narkoba tergantung dari jenis zat yang digunakan si pemakai. Jenis zat opiat (heroin, morfin, ganja) lebih spesifik mempercepat membuat ketergantungan dan mengakibatkan gangguan otak akibat perubahan syaraf pusat. "Nah, yang harus dipulihkan itu bukan sekadar dorongan keinginan untuk berhenti, namun juga struktur dan tatanan syaraf dan otak yang sudah terganggu dan mengalami perubahan," ujar Riza. Jadi, lanjut Riza, ada persoalan gangguan fisik yang harus dipulihkan dengan pengobatan medis.

Sementara jenis amfetamin seperti sabu dan ekstasi menyebabkan halusinasi dan dorongan untuk bertindak hiperaktif. Narkoba jenis benzodiazepin semacam pil nipam, BK, dan magadon mendorong orang untuk bersikap agresif. Penggunaan narkoba menstimulus potensi gangguan jiwa dalam diri mereka.

Penggunaan narkoba tertentu bisa memicu. Ada sebagian alasan menggunakan narkoba adalah self medication. "Seseorang yang merasa diri aneh, terasingkan, alienated, berbeda dengan teman sebaya ataupun lingkungannya namun tidak memiliki teman curhat, cenderung lebih mudah menjadi pemakai untuk menghilangkan atau berpaling dari rasa anehnya itu," ujar Riza.

"Semakin dini seseorang memulai memakai narkoba, akan semakin sulit proses pemulihannya. Hal ini karena pada usia di bawah 18 tahun, faktor perkembangan fisik dan otak yang seharusnya berkembang maksimal terhambat oleh racun yang ada dalam narkoba itu," papar Riza.

Dual Diagnosis

 

 Secara umum, efek yang paling berbahaya dari penggunaan narkoba adalah membuat orang lepas kontrol atas dirinya sendiri. Sementara itu, agresivitas lebih disebabkan alkohol, ganja, dan benzodiazepin (pil nipam, BK, megadon).

"Untuk memulihkan kondisi ini, harus dilakukan dual diagnosis. Diagnosis pertama dilakukan untuk mengatasi ketergantungannya terhadap narkoba, sedangkan diagnosis yang lain adalah untuk mengatasi gangguan jiwanya," papar Riza.

Setelah tahap detoksifikasi selesai, tahap pemulihan emosi dalam mengelola amarah, anger management harus menjadi bagian dari terapi dalam proses rehabilitasi pengguna narkoba. Karena, para pengguna itu memiliki kesulitan yang serius untuk mengekspresikan rasa kesal dan rasa marah dalam bentuk yang positif yang dialaminya. Itu berpotensi menimbulkan kekerasan.

 Peran Lingkungan

Upaya pemulihan itu tidak bisa dilakukan sendiri, harus ada dukungan yang proporsional dari lingkungan. Keluarga sebagai lingkungan terdekat harus menjadi garda terdepan dalam proses pemulihan anggota keluarga yang mengalami ketergantungan narkoba ini.

"Jauhkan persoalan saling menyalahkan ataupun lempar tanggung jawab di antara anggota keluarga. Ciptakan suasana yang hangat dan tumbuhkan aura kasih sayang yang tulus di antara anggota keluarga. Kondisi ini akan sangat membantu mempercepat upaya pemulihan," ujar Riza. Hasil penelitian Riza bersama tim psikolog RSKO Cibubur menunjukkan dukungan keluarga yang positif membuat pasien memiliki daya tahan yang lebih lama dalam program pemulihan.

"Hal ini akan menghasilkan perubahan perilaku permanen yang membawa dampak positif terhadap perubahan setelah ia selesai menjalani rehabilitasi," papar Riza. Namun, di sisi lain, ia juga mengingatkan upaya pemulihan itu harus didukung secara proporsional.

Pihak keluarga dan lingkungan terdekat juga harus mendorong para pemakai memotivasi diri sendiri untuk memerdekakan diri dari belenggu penjajahan narkoba," imbuh Riza. Artinya, kemandirian si pemakai untuk berupaya melepaskan diri dari ketergantungan narkoba harus terus ditumbuhkan.

"Serangan narkoba terhadap keluarga harmonis lebih disebabkan faktor dari dalam individu anggota keluarga ini. Karena itu, upaya pemulihan juga harus menyentuh sisi psikologis terdalam dari individu untuk menumbuhkan keinginan terlepas dari ketergantungan narkoba," ujar Riza.

Demikian halnya peran teman terdekat. Menjauhkan pengguna dari lingkungan pemakai harus ditempuh. Sementara itu, pendekatan personal secara intensif dengan memerhatikan aspek persuasif, seperti mendengarkan curhat maupun mengajaknya melakukan aktivitas keseharian yang membuat senang, bisa menjadi mempercepat upaya pemulihan.

Selain itu, faktor keterbukaan dalam keluarga cukup berperan signifikan. "Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menghargai pendapat setiap anggota, namun tetap memegang teguh sopan santun dan hirarki orang tua biasanya memiliki tameng yang lebih kuat terhadap godaan mencoba narkoba," ujar Riza. Hal penting lainnya adalah peran keluarga untuk menanamkan sisi spiritualitas, tidak hanya pada dimensi ritual, tapi yang terpenting adalah memberikan contoh berperilaku sesuai dengan tuntutan agama maupun kepercayaan yang dianut.

 

Disclosure

Larry Dignan

Larry Dignan has nothing to disclose. He doesn’t hold investments in the technology companies he covers.

Biography

Larry Dignan

Larry Dignan is Editor in Chief of ZDNet and SmartPlanet as well as Editorial Director of ZDNet's sister site TechRepublic. He was most recently Executive Editor of News and Blogs at ZDNet. Prior to that he was executive news editor at eWeek and news editor at Baseline. He also served as the East Coast news editor and finance editor at CNET News.com. Larry has covered the technology and financial services industry since 1995, publishing articles in WallStreetWeek.com, Inter@ctive Week, The New York Times, and Financial Planning magazine. He's a graduate of the Columbia School of Journalism and the University of Delaware.

For daily updates, follow Larry on Twitter.

icon callcenter
call center 021-80880011
sms center 081-221-675-675
  • Online
  • Unique Visitor
  • Download file
  • Per Unit Kerja
  • Sekertaris Utama
  • Inspektur Utama
  • Deputi Pemberantasan
  • Deputi Pencegahan
  • Deputi Rehabilitasi
  • Deputi Pem. Masyarakat
  • Deputi Hukum&Kerjasama
  • Puslitdatin
  • UPT T&R LIDO
  • UPT Diklat
  • UPT LAB
  • : 10 user
  • : 6164
  • : 30058

  • : 269808
  • : 207250
  • : 149902
  • : 106134
  • : 60164
  • : 38201
  • : 31036
  • : 29715
  • : 18609
  • : 16527
  • : 13791

session variable
$this->session->userdata('email') =>
$this->session->userdata('group') =>
$this->session->userdata('id') =>
$this->session->userdata('user_id') =>

Array
(
    [66.249.69.219] => Array
        (
            [time] => 1337256884
            [uri] => /portal/index.php/konten/detail/humas/pressrelease/4823/press-release-pengungkapan-17-ton-ganja-kering-sukabumi-11-september-2009
            [bot] => 
        )

    [112.215.66.67] => Array
        (
            [time] => 1337256894
            [uri] => /portal/index.php/backsite/post/load_script/1/bgiframe-superfish-supersubs-newsticker
            [bot] => 
        )

    [66.249.69.133] => Array
        (
            [time] => 1337256898
            [uri] => /portal/index.php/konten/detail/puslitdatin/artikel/2777/para-pakar-amerika-tengah-mencari-hubungan-antara-obat-obatan-dan-kejahatan-terorganisir
            [bot] => 
        )

    [38.107.179.210] => Array
        (
            [time] => 1337256783
            [uri] => /portal/index.php/konten/detail/deputi-pencegahan/artikel/10096/mencegah-penyalahgunaan-narkoba-jangan-mudah-mempercayai-mitos
            [bot] => 
        )

    [38.107.179.206] => Array
        (
            [time] => 1337256811
            [uri] => /portal/index.php/konten/detail/deputi-pencegahan/artikel/10097/mencegah-penyalahgunaan-narkoba-di-rumah-orangtua-harus-bisa-jadi-teman-bagi-anak-anaknya
            [bot] => 
        )

    [223.255.224.3] => Array
        (
            [time] => 1337256865
            [uri] => /portal/index.php/backsite/post/load_script/1/bgiframe-superfish-supersubs
            [bot] => 
        )

    [38.107.179.207] => Array
        (
            [time] => 1337256842
            [uri] => /portal/index.php/konten/detail/deputi-pencegahan/artikel/10099/cegah-narkoba-dengan-sistem-laba-laba
            [bot] => 
        )

    [180.76.5.92] => Array
        (
            [time] => 1337256843
            [uri] => /portal/index.php/suara_masyarakat/view/12/298/
            [bot] => 
        )

    [38.107.179.208] => Array
        (
            [time] => 1337256872
            [uri] => /portal/index.php/konten/detail/deputi-pencegahan/artikel/10100/dukungan-keluarga-bagi-pecandu-narkoba
            [bot] => 
        )

    [38.107.179.209] => Array
        (
            [time] => 1337256899
            [uri] => /portal/index.php/konten/detail/deputi-pencegahan/artikel/10109/peran-keluarga-pulihkan-pecandu-dari-ketergantungan-narkoba
            [bot] => 
        )

)