Kisah Narkoba
Deputi PencegahanSerapi Apapun Menyimpan, Kebiasaan Memakai Narkoba Pasti akan Ketahuan
Sebut saja namanya Yudi. Kini dengan bangga, ia dapat mengakui dirinya telah 'clean' dari narkoba. Semua benda - benda yang tergolong narkoba, telah ia cicipi. Mulai dari minuman keras, obat - obatan terlarang, ekstasi, shabu, hingga yang paling terakhir dan paling lama dikonsumsinya adalah putaw. Akibat narkoba, banyak kejadian buruk yang ia alami., termasuk mendekam di balik terali besi saat duduk di bangku sekolah.
Kebiasaan Yudi mengkonsumsi narkoba dimulainya sejak duduk di bangku kelas satu SMP pada tahun 1993. Pergaulan dan sifat ingin tahunya yang besar untuk mencoba narkoba, membawanya terjerumus. Zat adiktif yang pertama kali dicobanya adalah minuman keras. ?Iseng ? iseng sambil nongkrong, yah namanya anak muda. Dengan duit yang ada, kita cuma berpikir senang ? senang aja. Waktu itu kita beli anggur,? kenangnya sambil tersenyum.
Hampir tiap akhir pekan Yudi bersama teman ? teman sepermainannya menenggak minuman keras. Saat duduk di bangku kelas 2 SMP, Yudi mulai kenal dengan ganja. Perkenalannya dengan ganja ini diakui Yudi akibat dari pergaulan di daerah sekitar rumahnya, yakni daerah berinisial RB, yang menurutnya terkenal gampang untuk menemui macam ? macam narkoba. Ditawari seorang teman, ia akhirnya mencoba benda bernama ganja ini. ?Saya coba, dan ternyata enak,?akunya mengingat.
Tidak lama setelah kenal dengan ganja, Yudi pun mengenal obat ? obatan. Waktu itu, diakuinya obat yang sering dipakai adalah nipam. Ia pun membarengi kebiasaan meminum minuman keras dengan menghisap ganja dan menenggak obat ? obatan. Kebiasaan buruk itu terus berlangsung, bahkan semakin parah.
Suatu hari, Yudi sempat ketahuan oleh orang tuanya. Ketika pulang ke rumah, mereka curiga dengan gelagat putranya. Ia pun langsung didekati. Saat berbicara dengan mereka, dari mulut Yudi tercium aroma minuman keras. Mereka pun langsung memarahi Yudi habis ? habisan.
?Ngapain lu minum dan mabok kaya gitu? Kaya gak diurus aja, Makan dikasih, apa dikasih, eh lu malah coba ? coba minuman begituan!? ungkap Yudi meniru pekataan orang tuanya. Saat dimarahi mereka, Yudi menerima. Ia pun hanya diam ketika diberi nasehat. Yudi disuruh berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Setelah kejadian tersebut, pemantauan orang tua pada dirinya, diakui sedikit meningkat. Kemana ? mana ia selalu ditanya. Hingga akhirnya Yudi mencoba untuk ?bermain belakang? ketika ingin mengkonsumsi narkoba. Caranya, ia tidak lagi mengkonsumsi narkoba di lingkungan dekat rumahnya.
Diusir dan Masuk Sel
Namun, peristiwa sama berulang kembali. Saat itu, Yudi telah duduk di kelas satu SMK. Sehabis mengkonsumsi obat ? obatan, yang diakuinya jenis nipam, ia pulang ke rumah. Orang tua Yudi adalah pedagang mainan. Sekedar iseng, ia memainkan mobil remote control barang dagangan mereka. Karena masih dalam pengaruh obat, mobil ? mobilan itu secara tidak sengaja dirusaknya dengan dibentur ? benturkan ke tembok. Orang tuanya merasa curiga dengan gelagat Yudi, lalu bertanya, ?Kamu mabuk ya?? Yudi berusaha mengelak. Akhirnya cekcok mulut pun berlangsung antara anak dan orang tua. Namun, karena merasa sangat kesal dengan tingkah laku sang anak, Yudi pun diusir dari rumah.
?Kalau mabok obat, memang bawaannya jelek. Ribut melulu dan maunya marah ? marah terus. Sampai orang tua aja diajak berantem. Makanya ketika orang tua marah sama saya, saya malah lebih marah,? ungkap Yudi penuh penyesalan.
Setelah diusir, Yudi langsung pergi ke rumah temannya di daerah Jakarta Barat, untuk menumpang. Namun, bukannya tambah sadar, kebiasaan Yudi dalam mengkonsumsi narkoba semakin parah. Di rumah temannya, ia malah kembali ditawari obat ? obatan. Saat itu, persediaan obat yang dimiliki temannya masih banyak, sehingga Yudi diberi dengan cuma ? cuma.
Dua hari hidup dalam pengusiran orang tuanya, Yudi mulai kehabisan uang. Ia pun berpikir tentang bagaimana mendapatkan uang. Niat buruk pun hinggap, yakni mencuri. Di satu kantor di kawasan Jakarta Barat, dekat dengan rumah teman yang ditumpangi, Yudi melaksanakan aksinya. Ketika memasuki areal kantor, dilihatnya sebuah motor yang sedang diparkir di pelataran. Masih di bawah pengaruh obat ? obatan, ia mengakali motor tersebut untuk diambil carburatornya. Saat itu Yudi hanya berpikir untuk bisa mendapatkan uang dengan menjual benda yang akan dicurinya. Namun, kesialan menimpa,. Tanpa disadari, beberapa orang keluar dari kantor tersebut sambil meneriakinya.
?Banyak orangnya. Ada yang bawa pentungan, besi, dan macam ? macam. Ternyata, dari mulai pertama saya mendekati kantor tersebut, mereka sudah tahu. Jadi kaca kantor itu jenisnya riben, yang tidak bisa dilihat dari luar tapi bisa melihat dari dalam,? tutur anak bungsu ini.
Beruntung, ketika sedang dikeroyok oleh orang ? orang tersebut, sebuah mobil patroli polisi melintas. Tindakan pengeroyokan pun akhirnya berhenti. Sampai akhirnya ia kemudian digelandang ke sebuah polsek di daerah itu. Yudi langsung dijebloskan ke dalam terali besi. Setelah seminggu mendekam di terali besi, Yudi akhirnya mengabari orang tuanya. Namun, baru sebulan kemudian mereka datang menebus Yudi keluar.
Kenal dengan Putaw
Selepas kejadian itu, orang tuanya lalu berpikir untuk menyuruh Yudi tinggal di rumah sanak saudaranya di daerah KB, Jakarta Pusat, yang kebetulan dekat dengan sekolahnya. Alasannya agar Yudi lebih terpantau dalam melaksanakan kegiatan sekolah. Tetapi, di daerah tersebut dirinya malah semakin tidak karuan dalam mengkonsumsi narkoba. Malahan, di daerah ini dirinya mengenal zat bernama putaw.
?Setahu saya, di tahun 1997 putaw itu masih baru. Kebetulan saya sudah kelas dua SMK. Ada bandar yang datang ke sini, terus nawarin ke teman saya dan teman saya yang menawarkan saya. Dicoba dah sama saya,? tutur pemuda yang biasa mengojek untuk mengisi waktu luang.
Pertama kali mencoba putaw, Yudi memakainya dengan cara di-drugs, yaitu dibakar dengan kertas timah kemudian dihisap uapnya. Pada saat menjalankan kebiasaannya itu, Yudi sering dirayu teman ? temannya untuk mempraktekkan cara pemakaian dengan menggunakan jarum suntik. Namun, ia tetap bertahan untuk tidak menanggapi rayuan tersebut karena ada sedikit rasa takut dengan resikonya.
?Saya berpikir, ah?yang dihasilkan sama aja kok. Mabok ? mabok juga. Makanya saya menolak untuk memakai insulin. Sedikit ngeri juga sih,? akunya geli.
Walaupun rayuan untuk memakai jarum suntik terus datang pada dirinya, Yudi tetap yakin dan bertahan untuk menolak. Namun setelah satu tahun bertahan, ia pun tergiur untuk mencoba memakai jarum suntik. Ternyata, cara menyuntik dirasakan Yudi lebih terasa efeknya.?Lebih nikmat daripada di-drugs,? ujarnya polos.
Dari sinilah kebiasaan untuk mencandu putaw dirasakannya semakin menjadi. Segala usaha ia lakukan untuk mendapatkan putaw. Uang tabungan dan bayaran sekolah habis digunakan untuk membeli serbuk putih tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, harga putaw pun naik. Terkadang Yudi membohongi orang tuanya untuk mendapatkan uang. Alasan yang sering dipakai adalah keperluan membeli buku sekolah.
?Wah jelek banget dah, kasus melulu pas kena putaw. Jual barang, yang terkadang barang orang tua, sering saya lakukan. Sampai saya juga bohongin teman untuk meminjam uang. Kadang teman sesama pemakai juga saling ?makan?. Alasannya tabungan untuk membeli paket putaw. Tapi, yang beli gak balik ? balik lagi, sampai akhirnya dipakai sendiri sama yang jalan,? tutur pemuda yang hobi olahraga ini.
Meski menjalani kebiasaannya dengan putaw, konsumsi narkoba lain tidak ditinggalkan Yudi. Malahan, ketika sedang sakaw [ketagihan, Red] dan tidak punya uang untuk membeli putaw, ia berusaha untuk mengkonsumsi narkoba jenis lain seperti miras, obat ? obatan, ataupun ganja. ?Saya seringnya gak maksain. Pikir saya, yang penting mabok dan bisa lupa ama sakaw,? jelasnya.
Diakui Yudi, kebiasaan paling lama adalah mengkonsumsi putaw. Hingga dirinya bekerja setelah lulus dari SMK pada tahun 1999, ia masih mengkonsumsi barang tersebut. Berbagai jenis pekerjaan dijalani Yudi, mulai dari Cleaning Service, Debt Collector, kurir, hingga satpam. Gajinya selalu habis untuk membeli putaw. Meski cukup lama berlangsung, kedua orang tua Yudi tidak tahu akan kebiasaannya ini. ?Mereka tahunya saya hanya terkena minuman keras, obat ? obatan dan ganja,? papar Yudi.
Berhenti agar Sehat
Hampir tujuh tahun lamanya Yudi bergelut dengan putaw. Perhitungan tersebut didapat dari pengakuannya bahwa dua tahun terakhir ini ia telah bersih dari narkoba apapun, khususnya putaw yang dimulainya sejak tahun 1997. Bahkan, kegiatan merokok pun telah ditinggalkan. Semua usaha itu dilakoni semenjak Yudi menikah pada tahun 2003. Setelah menikah itulah, dirinya mulai berusaha sedikit demi sedikit untuk lepas dari jeratan putaw. Cara pengalihan ke jenis narkoba lain dilakukannya.
Setali tiga uang, istrinya pun tidak tahu akan kebiasaan Yudi memakai putaw. Barulah ketika Yudi masuk rumah sakit pada tahun 2002, istrinya sedikit tahu mengenai kebiasaan suaminya mengkonsumsi putaw. Yayasan Pelita Ilmu di daerah Jakarta Pusat yang bergerak dalam penanganan korban narkoba, turut membantu melepas kebiasaan buruk Yudi. Bahkan hingga kini, ia aktif membantu yayasan tersebut dalam melakukan kegiatannya. Diakui, banyak hal yang membuatnya bersih dari narkoba. Keinginannya untuk hidup sehat, merupakan alasan utama. Di samping itu, ia pun berpikir akan masa depan, terlebih masa depan bersama istri.
?Pokoknya, kalau ada orang yang masih mengkonsumsi narkoba hingga sekarang, lebih baik tinggalin dah. Banyak ruginya daripada untungnya. Untuk yang belum ketahuan juga. Karena, serapi apapun menyimpan kebiasaan buruk narkoba, suatu saat pasti akan ketahuan juga,? tegasnya mengingatkan. (Adi KSG IV)
Kebiasaan Yudi mengkonsumsi narkoba dimulainya sejak duduk di bangku kelas satu SMP pada tahun 1993. Pergaulan dan sifat ingin tahunya yang besar untuk mencoba narkoba, membawanya terjerumus. Zat adiktif yang pertama kali dicobanya adalah minuman keras. ?Iseng ? iseng sambil nongkrong, yah namanya anak muda. Dengan duit yang ada, kita cuma berpikir senang ? senang aja. Waktu itu kita beli anggur,? kenangnya sambil tersenyum.
Hampir tiap akhir pekan Yudi bersama teman ? teman sepermainannya menenggak minuman keras. Saat duduk di bangku kelas 2 SMP, Yudi mulai kenal dengan ganja. Perkenalannya dengan ganja ini diakui Yudi akibat dari pergaulan di daerah sekitar rumahnya, yakni daerah berinisial RB, yang menurutnya terkenal gampang untuk menemui macam ? macam narkoba. Ditawari seorang teman, ia akhirnya mencoba benda bernama ganja ini. ?Saya coba, dan ternyata enak,?akunya mengingat.
Tidak lama setelah kenal dengan ganja, Yudi pun mengenal obat ? obatan. Waktu itu, diakuinya obat yang sering dipakai adalah nipam. Ia pun membarengi kebiasaan meminum minuman keras dengan menghisap ganja dan menenggak obat ? obatan. Kebiasaan buruk itu terus berlangsung, bahkan semakin parah.
Suatu hari, Yudi sempat ketahuan oleh orang tuanya. Ketika pulang ke rumah, mereka curiga dengan gelagat putranya. Ia pun langsung didekati. Saat berbicara dengan mereka, dari mulut Yudi tercium aroma minuman keras. Mereka pun langsung memarahi Yudi habis ? habisan.
?Ngapain lu minum dan mabok kaya gitu? Kaya gak diurus aja, Makan dikasih, apa dikasih, eh lu malah coba ? coba minuman begituan!? ungkap Yudi meniru pekataan orang tuanya. Saat dimarahi mereka, Yudi menerima. Ia pun hanya diam ketika diberi nasehat. Yudi disuruh berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Setelah kejadian tersebut, pemantauan orang tua pada dirinya, diakui sedikit meningkat. Kemana ? mana ia selalu ditanya. Hingga akhirnya Yudi mencoba untuk ?bermain belakang? ketika ingin mengkonsumsi narkoba. Caranya, ia tidak lagi mengkonsumsi narkoba di lingkungan dekat rumahnya.
Diusir dan Masuk Sel
Namun, peristiwa sama berulang kembali. Saat itu, Yudi telah duduk di kelas satu SMK. Sehabis mengkonsumsi obat ? obatan, yang diakuinya jenis nipam, ia pulang ke rumah. Orang tua Yudi adalah pedagang mainan. Sekedar iseng, ia memainkan mobil remote control barang dagangan mereka. Karena masih dalam pengaruh obat, mobil ? mobilan itu secara tidak sengaja dirusaknya dengan dibentur ? benturkan ke tembok. Orang tuanya merasa curiga dengan gelagat Yudi, lalu bertanya, ?Kamu mabuk ya?? Yudi berusaha mengelak. Akhirnya cekcok mulut pun berlangsung antara anak dan orang tua. Namun, karena merasa sangat kesal dengan tingkah laku sang anak, Yudi pun diusir dari rumah.
?Kalau mabok obat, memang bawaannya jelek. Ribut melulu dan maunya marah ? marah terus. Sampai orang tua aja diajak berantem. Makanya ketika orang tua marah sama saya, saya malah lebih marah,? ungkap Yudi penuh penyesalan.
Setelah diusir, Yudi langsung pergi ke rumah temannya di daerah Jakarta Barat, untuk menumpang. Namun, bukannya tambah sadar, kebiasaan Yudi dalam mengkonsumsi narkoba semakin parah. Di rumah temannya, ia malah kembali ditawari obat ? obatan. Saat itu, persediaan obat yang dimiliki temannya masih banyak, sehingga Yudi diberi dengan cuma ? cuma.
Dua hari hidup dalam pengusiran orang tuanya, Yudi mulai kehabisan uang. Ia pun berpikir tentang bagaimana mendapatkan uang. Niat buruk pun hinggap, yakni mencuri. Di satu kantor di kawasan Jakarta Barat, dekat dengan rumah teman yang ditumpangi, Yudi melaksanakan aksinya. Ketika memasuki areal kantor, dilihatnya sebuah motor yang sedang diparkir di pelataran. Masih di bawah pengaruh obat ? obatan, ia mengakali motor tersebut untuk diambil carburatornya. Saat itu Yudi hanya berpikir untuk bisa mendapatkan uang dengan menjual benda yang akan dicurinya. Namun, kesialan menimpa,. Tanpa disadari, beberapa orang keluar dari kantor tersebut sambil meneriakinya.
?Banyak orangnya. Ada yang bawa pentungan, besi, dan macam ? macam. Ternyata, dari mulai pertama saya mendekati kantor tersebut, mereka sudah tahu. Jadi kaca kantor itu jenisnya riben, yang tidak bisa dilihat dari luar tapi bisa melihat dari dalam,? tutur anak bungsu ini.
Beruntung, ketika sedang dikeroyok oleh orang ? orang tersebut, sebuah mobil patroli polisi melintas. Tindakan pengeroyokan pun akhirnya berhenti. Sampai akhirnya ia kemudian digelandang ke sebuah polsek di daerah itu. Yudi langsung dijebloskan ke dalam terali besi. Setelah seminggu mendekam di terali besi, Yudi akhirnya mengabari orang tuanya. Namun, baru sebulan kemudian mereka datang menebus Yudi keluar.
Kenal dengan Putaw
Selepas kejadian itu, orang tuanya lalu berpikir untuk menyuruh Yudi tinggal di rumah sanak saudaranya di daerah KB, Jakarta Pusat, yang kebetulan dekat dengan sekolahnya. Alasannya agar Yudi lebih terpantau dalam melaksanakan kegiatan sekolah. Tetapi, di daerah tersebut dirinya malah semakin tidak karuan dalam mengkonsumsi narkoba. Malahan, di daerah ini dirinya mengenal zat bernama putaw.
?Setahu saya, di tahun 1997 putaw itu masih baru. Kebetulan saya sudah kelas dua SMK. Ada bandar yang datang ke sini, terus nawarin ke teman saya dan teman saya yang menawarkan saya. Dicoba dah sama saya,? tutur pemuda yang biasa mengojek untuk mengisi waktu luang.
Pertama kali mencoba putaw, Yudi memakainya dengan cara di-drugs, yaitu dibakar dengan kertas timah kemudian dihisap uapnya. Pada saat menjalankan kebiasaannya itu, Yudi sering dirayu teman ? temannya untuk mempraktekkan cara pemakaian dengan menggunakan jarum suntik. Namun, ia tetap bertahan untuk tidak menanggapi rayuan tersebut karena ada sedikit rasa takut dengan resikonya.
?Saya berpikir, ah?yang dihasilkan sama aja kok. Mabok ? mabok juga. Makanya saya menolak untuk memakai insulin. Sedikit ngeri juga sih,? akunya geli.
Walaupun rayuan untuk memakai jarum suntik terus datang pada dirinya, Yudi tetap yakin dan bertahan untuk menolak. Namun setelah satu tahun bertahan, ia pun tergiur untuk mencoba memakai jarum suntik. Ternyata, cara menyuntik dirasakan Yudi lebih terasa efeknya.?Lebih nikmat daripada di-drugs,? ujarnya polos.
Dari sinilah kebiasaan untuk mencandu putaw dirasakannya semakin menjadi. Segala usaha ia lakukan untuk mendapatkan putaw. Uang tabungan dan bayaran sekolah habis digunakan untuk membeli serbuk putih tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, harga putaw pun naik. Terkadang Yudi membohongi orang tuanya untuk mendapatkan uang. Alasan yang sering dipakai adalah keperluan membeli buku sekolah.
?Wah jelek banget dah, kasus melulu pas kena putaw. Jual barang, yang terkadang barang orang tua, sering saya lakukan. Sampai saya juga bohongin teman untuk meminjam uang. Kadang teman sesama pemakai juga saling ?makan?. Alasannya tabungan untuk membeli paket putaw. Tapi, yang beli gak balik ? balik lagi, sampai akhirnya dipakai sendiri sama yang jalan,? tutur pemuda yang hobi olahraga ini.
Meski menjalani kebiasaannya dengan putaw, konsumsi narkoba lain tidak ditinggalkan Yudi. Malahan, ketika sedang sakaw [ketagihan, Red] dan tidak punya uang untuk membeli putaw, ia berusaha untuk mengkonsumsi narkoba jenis lain seperti miras, obat ? obatan, ataupun ganja. ?Saya seringnya gak maksain. Pikir saya, yang penting mabok dan bisa lupa ama sakaw,? jelasnya.
Diakui Yudi, kebiasaan paling lama adalah mengkonsumsi putaw. Hingga dirinya bekerja setelah lulus dari SMK pada tahun 1999, ia masih mengkonsumsi barang tersebut. Berbagai jenis pekerjaan dijalani Yudi, mulai dari Cleaning Service, Debt Collector, kurir, hingga satpam. Gajinya selalu habis untuk membeli putaw. Meski cukup lama berlangsung, kedua orang tua Yudi tidak tahu akan kebiasaannya ini. ?Mereka tahunya saya hanya terkena minuman keras, obat ? obatan dan ganja,? papar Yudi.
Berhenti agar Sehat
Hampir tujuh tahun lamanya Yudi bergelut dengan putaw. Perhitungan tersebut didapat dari pengakuannya bahwa dua tahun terakhir ini ia telah bersih dari narkoba apapun, khususnya putaw yang dimulainya sejak tahun 1997. Bahkan, kegiatan merokok pun telah ditinggalkan. Semua usaha itu dilakoni semenjak Yudi menikah pada tahun 2003. Setelah menikah itulah, dirinya mulai berusaha sedikit demi sedikit untuk lepas dari jeratan putaw. Cara pengalihan ke jenis narkoba lain dilakukannya.
Setali tiga uang, istrinya pun tidak tahu akan kebiasaan Yudi memakai putaw. Barulah ketika Yudi masuk rumah sakit pada tahun 2002, istrinya sedikit tahu mengenai kebiasaan suaminya mengkonsumsi putaw. Yayasan Pelita Ilmu di daerah Jakarta Pusat yang bergerak dalam penanganan korban narkoba, turut membantu melepas kebiasaan buruk Yudi. Bahkan hingga kini, ia aktif membantu yayasan tersebut dalam melakukan kegiatannya. Diakui, banyak hal yang membuatnya bersih dari narkoba. Keinginannya untuk hidup sehat, merupakan alasan utama. Di samping itu, ia pun berpikir akan masa depan, terlebih masa depan bersama istri.
?Pokoknya, kalau ada orang yang masih mengkonsumsi narkoba hingga sekarang, lebih baik tinggalin dah. Banyak ruginya daripada untungnya. Untuk yang belum ketahuan juga. Karena, serapi apapun menyimpan kebiasaan buruk narkoba, suatu saat pasti akan ketahuan juga,? tegasnya mengingatkan. (Adi KSG IV)
icon callcenter
call center 021-80880011
sms center 081-221-675-675
- Online
- Unique Visitor
- Download file
- Per Unit Kerja
- Sekertaris Utama
- Inspektur Utama
- Deputi Pemberantasan
- Deputi Pencegahan
- Deputi Rehabilitasi
- Deputi Pem. Masyarakat
- Deputi Hukum&Kerjasama
- Puslitdatin
- UPT T&R LIDO
- UPT Diklat
- UPT LAB
- : 7 user
- : 6161
- : 30055
- : 269805
- : 207247
- : 149899
- : 106131
- : 60161
- : 38198
- : 31033
- : 29712
- : 18606
- : 16524
- : 13788
SEP
20
2011
Rapat Pokja
SEP
19
2011
Layanan One Stop Center (OSC)
AGS
25
2011
Ceramah Ramadhan
AGS
22
2011
Ceramah Ramadhan
-
07.b/V/2012/PENG-ULP/REHAB/BNN: Pelelangan Ulang Pekerjaan Pengadaan Makan Petugas Program Sebaru
-
06.b/V/2012/PENG-ULP/REHAB/BNN: Pelelangan Ulang Pekerjaan Pengadaan Makan Residen Program Sebaru
-
04.b/V/2012/PENG-ULP/REHAB/BNN: Pelelangan Ulang Pengadaan Makan Residen Program Tambling.
-
05.b/V/2012/PENG-ULP/REHAB/BNN: Pelelangan Ulang Pekerjaan Pengadaan Makan Petugas Program Tambling