◊ Download File: litsus_nov_2006.pdf (ekstensi file: Download  Dokumen)

PERMASALAHAN narkoba di tanah air saat ini sudah tidak bisa dianggap enteng. Empat jutaan penduduk Indonesia sudah menjadi penyalahguna narkoba, di mana 40 orang di antaranya harus meregang nyawa setiap hari. Angka ini berpotensi meningkat mengingat negara kita saat ini sudah dijadikan daerah konsumsi bahkan produksi narkoba oleh jaringan pengedar narkoba internasional.



Pemerintah dalam hal ini Badan narkotika Nasional (BNN) dibantu masyarakat telah melakukan upaya pencegahan dan pengendalian perdagangan. Norma sosial juga ajaran-ajaran agama telah menyebutkan bahwa menggunakan zat-zat yang memabukkan adalah perbuatan terlarang. Namun kenyataan menunjukkan bahwa korban penyalahgunaan narkoba terus ada bahkan kasusnya terus meningkat. Penilaian salah-tidaknya apa yang dilakukan oleh pecandu tidaklah kemudian menghilangkan hak-hak mereka untuk mendapatkan pelayanan rehabilitasi guna pemulihan kehidupan mereka. Sebagai manusia, mereka yang terjatuh dalam penyalahgunaan narkoba perlu ditolong agar mereka dapat kembali hidup secara wajar menjadi manusia yang produktif. Tugas itu adalah tanggung jawab negara.



Tanggung jawab itu sebenarnya juga menjadi perhatian BNN. Dalam hal pelayanan terapi dan rehabilitasi, BNN telah membangun sebuah panti rehabilitasi yang bernama Balai Kasih Sayang (BKS) Pamardi Siwi. Pada awal berdirinya dikenal sebagai Wisma Pamardi Siwi berlokasi di Jl. MT. Haryono No. 11 Cawang - Jakarta Timur, yang diresmikan oleh Ibu Negara tanggal 31 Oktober 1974. Pada masa itu Wisma Pamardi Siwi adalah pilot project nasional DKI Jakarta yang merupakan realisasi dari Bakorlak Inpres 6 Tahun 1971 yang difungsikan sebagai tempat tahanan sementara bagi anak-anak dan wanita dewasa sebelum perkaranya diajukan ke sidang pengadilan, juga sebagai tempat penitipan anak-anak atau remaja yang terlibat berbagai kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkotika.





Panti Rehabilitasi Narkoba Terbesar Se-Asia Tenggara



Beranekaragamnya penanganan bagi para korban penyalahguna yang berkembang dalam masyarakat, baik itu yang telah melalui penelitian secara ilmiah maupun empiris atau tradisional, membuat pemerintah melalui BNN sangat memperhatikan perkembangan ini. Untuk itu, pemerintah membangun pusat rehabilitasi yang mampu menjawab tantangan tersebut, yakni Pusat Rehabilitasi Penanganan Korban Narkoba Lido (PRPKN Lido). PRPKN Lido adalah panti rehabilitasi narkoba terbesar se-Asia Tenggara. Berdasarkan paparan Kalakhar BNN tentang pembangunan PRPKN, pemerintah telah mengalokasikan dana untuk pembangunan panti rehab sebesar 80 milyar rupiah untuk pembangunan fisik. Sedangkan untuk penyediaan sarana dan prasarana, alokasi dana mencapai 15,5 milyar.



PRPKN Lido dibangun di atas tanah seluas 11,2 ha di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Di dalam area tersebut nantinya akan terdapat asrama untuk para residen. Selain itu juga terdapat tempat-tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, dan wihara. Tidak ketinggalan bangunan utama dan juga ruang serbaguna serta fasilitas-fasilitas lain seperti lapangan olahraga.



Menurut Agus Gatot, Kepala Unit Pelayanan T&R Balai Kasih Sayang Pamardi Siwi, PRPKN Lido rencananya akan menjadi pusat rujukan nasional bagi pengembangan pusat rehabilitasi yang ada di Indonesia. "Selain itu, PRPKN Lido juga akan menjadi pusat pendidikan dan pelatihan bagi pembentukan sumber daya manusia dalam bidang terapi dan rehabilitasi serta sebagai tempat penelitian bagi pengembangan program terapi dan rehabilitasi korban penyalahguna narkoba," ujar Agus. Di PRPKN Lido, rambah Agus, nantinya akan dikembangkan empat pendekatan terapi yakni Hospital Base, Religy, Alternative, dan Therapeutic Community.





Hospital Base



Hospital Base adalah penanganan korban narkoba dengan berbasis rumah sakit. Pendekatan Hospital Base di sini mengunakan metode one stop centre, yaitu metode penanganan yang dikembangkan di Balai Kasih Sayang Pamardi Siwi yang merupakan program terpadu dimulai dari rehabilitasi medis hingga ke rehabilitasi sosial. Kebanyakan pusat rehabilitasi hanya melaksanakan penanganan rehabilitasi sosial saja atau medis saja (detoksifikasi). Penanganan pertama di rehabilitasi medis adalah melaksanakan konseling, yaitu suatu kegiatan di mana orang tua calon peserta rehabilitasi (residen) mendapatkan penjelasan tentang program yang diterapkan. Penjelasan ini sangatlah penting mengingat keterlibatan orang tua dalam rangka penanganan anak sangat penting dan berpengaruh pada ringkat keberhasilan terapi. Adapun penanganan secara medis terdiri dari: pemeriksaan rontgen, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan psikologi, voluntary counselling and testing, penanganan dual diagnosis, serta konsultasi jiwa dan psikologi.





Therapeutic Community (TC)



a. Primary Program

Dengan konsep "man help himself yang didasarkan pada nilai kekeluargaan acau konsep keluarga (TC) dikembangkan pelayanan rehabilitasi bagi mereka yang masih ketergantungan. Di sini para mantan addict diberikan pelaiihan-pelacihan kepribadian, life skill, dan dibutuhkan pula pendekacan perawatan spesifik, komprehensif dan berkesinambungan bagi mereka. Adapun tahapan Primary Program sebagai berikut:

1). Tahap Orientasi

2). Tahap Intensif

3). Tahap Resosialisasi

4). Tahap Pemantapan



Waktu yang diperlukan untuk pemulihan pada Primary Program diharapkan sekitar 6-9 bulan. Hal ini dikarenakan ketergantungan narkoba merupakan suatu penyakit kronis yang memiiiki kemungkinan besar untuk kambuh atau relapse.





b. Re-Entry Program

Masa menjelang kembali ke masyarakat nyata, di mana residen akan kembali bersosialisasi dengan lingkungan yang sebenarnya. Di sini residen akan berjuang untuk menggunakan akal pikiran secara jernih dan sehat agar tetap tercapainya tujuan recovery, yaitu: Drug Free, Healthy Life, Crime Free, dan Productivity.





Religy



Melihat perkembangan penyalahgunaan narkoba bagi remaja serta berbagai metode yang ditawarkan oleh pusat-pusat rehabilitasi yang ada, baik pemerintah maupun LSM - maka BKS Pamardi Siwi mulai menerapkan program pemulihan bagi korban ketergantungan narkoba dengan menggunakan pendekatan keagamaan secara Islam yaitu metode Dzikrullah dengan tehnik memperbanyak zikir mengingat Allah. Metode zikir digunakan untuk menyentuh Qolbu yang paling dalam sehingga bisa kembali ke jalan yang benar menjadi manusia yang taqwa kepada Allah SWT, metode ini bekerjasama dengan Pondok Pesantren Remaja Suryalaya/Inabah. Selain itu di PRPKN Lido sengaja dibuat tempat ibadah untuk lima agama yaitu Islam, Kristen (Protestan dan Katolik), Hindu dan Budha untuk pendekatan-pendekatan agama yang lain.





Alternative



Untuk menjawab tantangan dengan memperkaya pendekatan terapi maka pusat rehabilitasi Lido juga mengembangkan terapi alternatif, antara lain yang sedang dikembangkan adalah terapi akupuntur. Tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan berbagai metode terapi alternatif lain, misalnya hypnoterapi. Jelas, tidak ada satu jenis terapi yang cocok untuk semua jenis pecandu. Masing-masing memiliki kelebihan dan keberhasilannya masing-masing. Karena itulah di PRPKN Lido dikembangkan empat pendekatan terapi.



Stigma memalukan dan aib yang masih kental untuk para pecandu narkoba membuat pemerintah kesulitan mendata dan mengobati mereka. Tingkat isian residen di tempat-tempat rehabilitasi masih kecil, sangat kontras dengan jumlah penyalahguna berdasarkan hasil penelitian. Mungkin ada kendala ekonomi sehingga mereka tidak berani memasukkan anaknya atau anggota keluarganya ke panti rehabilitasi narkoba. Untuk itu pemerintah akan menanggung biaya bagi pasien yang berobat ke panti-panti milik pemerintah seperti BKS Pamardi Siwi dan PRPKN Lido nantinya. (SADAR BNN November 2006 / Adi KSG IV)