Puji syukur kami ucapkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkah dan rahmat-Nya, kita mendapat kesehatan, kekuatan dan semangat dalam menjalankan tugas di tahun 2009 untuk memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan selamat merayakan Natal bagi umat Kristiani. Semoga perayaan Natal ini akan membangun suasana kedamaian, kasih dan kepedulian antar sesama bagi seluruh bangsa Indonesia, sehingga dapat mendorong tingkat kepedulian, yang bernuansa pada pencapaian “Indonesia Bebas Narkotika Tahun 2015”.

Pada tahun 2009 telah dicapai kemajuan di bidang peraturan, dengan disahkannya Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pada tanggal 12 Oktober 2009 oleh Presiden Republik Indonesia. Beberapa poin penting dalam undang - undang tersebut antara lain :

1. Adanya hukuman yang lebih berat bagi para pelaku kejahatan peredaran gelap Narkotika / sindikat Narkotika, antara lain dalam hal menyalurkan Narkotika golongan 1, dalam bentuk :

A. Tanaman beratnya lebih dari 1 kilogram ;

B. Melebihi 5 batang pohon ;

C. Dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram.

2. Adanya perubahan struktur organisasi BNN menjadi vertikal dengan BNN Provinsi maupun BNN Kabupaten / Kota.

3. Adanya ketentuan bagi pecandu Narkotika yang sudah cukup umur, yang telah melaporkan diri untuk mendapatkan perawatan rehabilitasi atau sedang menjalani rehab medis sebanyak 2 kali masa perawatan dokter di tempat rehab / rumah sakit, tidak akan dituntut pidana.

Hadirin yang saya hormati,

BNN sebagai institusi yang diberikan tanggung jawab untuk mengkoordinasikan strategi dan implementasi penanggulangan permasalahan Narkotika di Indonesia, akan menginformasikan kepada masyarakat melalui media massa mengenai berbagai program kegiatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2009 ini.

Program kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka upaya Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika atau P4GN didasari oleh kebijakan dan strategi nasional P4GN, seperti yang tertera di bawah ini :

Kebijakan nasional P4GN :

1. Menjadikan masyarakat imun terhadap penyalahgunaan Narkotika;

2. Menyembuhkan korban penyalahguna Narkotika melalui proram terapi dan rehabilitasi;

3. Terus menerus memberantas jaringan sindikat Narkotika.

Adapun strategi nasional P4GN berupa :

1. Peningkatan kampanye anti Narkotika di lingkungan kerja, sekolah dan keluarga, untuk mengurangi tingkat prevalensi penyalahguna Narkotika yang saat ini berjumlah 1,99 % dari total populasi penduduk indonesia.

2. Mengupayakan agar korban yang sembuh meningkat dan korban yang relapse berkurang.

3. Pengungkapan jaringan sindikat meningkat.

Beberapa informasi penting yang akan kami sampaikan kepada masyarakat adalah output dan outcome pelaksanaan program kegiatan yang difokuskan pada dua bidang, yaitu :

1. Supply reduction

2. Demand reduction

Kedua bidang ini dilaksanakan dalam rangka menghadapi kondisi penyalahgunaan peredaran Narkotika yang semakin lama semakin meningkat. Hal ini dapat di lihat dari beberapa fakta hasil penelitian dengan beberapa kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh BNN bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia pada tahun 2008 tentang Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkotika, diketahui bahwa angka prevalensi penyalahguna Narkotika di Indonesia telah mencapai sebesar 1,99 % dari total populasi penduduk. Hal ini mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan prevalensi pada tahun 2004, yaitu sebesar 1,75 %.

Adapun gambaran mengenai situasi tindak pidana Narkotika, periode bulan Januari hingga November 2009, adalah sebagai berikut :

1. Jumlah kasus Narkotika yang berhasil diungkap sebanyak 28.382 kasus, dengan rincian untuk Narkotika sejumlah 9.661 kasus, psikotropika 8.698 kasus, dan bahan berbahaya 10.023 kasus.

2. Jumlah tersangka yang ditangkap sebanyak 35.299 orang, dengan rincian kasus Narkotika sejumlah 13.051 orang, psikotropika 11.601 orang, dan bahan berbahaya sebanyak 10.647 orang.

3. Dari jumlah 35.299 orang tersangka tersebut, mayoritas didominasi oleh jenis kelamin laki – laki sebanyak 32.343 orang WNI dan 62 orang WNA. Sedangkan tersangka wanita sebanyak 2.877 orang WNI dan 17 orang WNA.

4. Adapun untuk usia tersangka, mayoritas adalah mereka yang berusia di atas 30 tahun sebanyak 19.566 orang. Usia di bawah 15 tahun sebesar 102 orang, usia 16 sampai 19 tahun sebanyak 1.596 orang, usia 20 sampai 24 tahun sebanyak 5.023 orang, dan usia 25 sampai 29 tahun sejumlah 9.012 orang.

Hadirin yang saya hormati,

Untuk menghadapi kondisi tersebut, dua bidang prioritas yaitu supply dan demand reduction telah di-implementasikan dalam berbagai kegiatan dengan hasil sebagai berikut :

1. Supply reduction (pemberantasan jaringan sindikat Narkotika)

BNN melalui satgas-satgas di bidang penegakan hukum telah dilakukan berbagai langkah dan upaya untuk menghentikan serta memutus mata rantai jaringan dan pasokan Narkotika di pasaran, melalui upaya – upaya antara lain :

A. Dukungan penegakan hukum

1) Pengawasan terhadap peredaran Narkotika, khususnya prekursor yang merupakan bahan utama pembuat Narkotika, dengan cara memonitor para importir atau distributor bahan prekursor.

2) Latihan operasi maritim bersama -- interdiksi antara BNN dengan TNI Angkatan Laut yang merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman beberapa waktu lalu.

3) Sosialisasi dan pengawasan prekursor untuk para penegak hukum di 11 propinsi. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan para petugas di lapangan mengenai mekanisme dan proses pengawasan prekursor.

4) Peningkatan kemampuan aparat penegak hukum di bidang penyelidikan tindak pidana Narkotika melalui pelatihan controlled delivery dan computer based training.

5) Pendistribusian peralatan penunjang operasional kepada para Satgas BNN, berupa tes urine cup sebanyak 5.000 unit, tes kit Narkotika sebanyak 1.000 paket, saliva tes kit 5.000 unit, mesin x-ray inspection system 1 unit, analis notebook 10 unit, dan alat identifikasi kimia portabel sebanyak 1 unit.

6) Pelatihan di bidang teknis penyidikan bagi 53 orang penyidik BNN.

B. Operasi penegakan hukum

1) Operasi penggeledehan di Lembaga Pemasyarakatan Kupang, Tenggarong, Mataram, Jantho, Padang, dan Surakarta. Operasi ini dilakukan untuk meminimalisir peredaran gelap Narkotika di dalam lapas. Dari hasil pelaksanaan operasi didapatkan antara lain handphone 78 buah, shabu 0,01 gram, ganja 1 linting, dan uang tunai sejumlah Rp. 31.748.500,-. Selain itu juga didapati 2 orang penghuni yang terbukti positif mengkonsumsi shabu, 2 orang penghuni mengkonsumsi ganja, dan 5 orang menggunakan benzodiazepin.

2) Operasi airport interdiction di Bandara Soekarno - Hatta, Bandara Juanda, dan Bandara Ngurah Rai juga telah berhasil mengungkap beberapa kasus, sebagai berikut :

A) Untuk wilayah domestik sejak bulan Januari hingga Desember 2009, telah mengungkap sebanyak 14 kasus. Barang bukti yang berhasil disita berupa 16.260 butir Ekstasi, 2.560 gram Shabu, 70.000 butir pil LL, dan 8.349 butir pil yang mengandung ketamine, epidrine dan kafein. Modus penyelundupan umumnya disembunyikan dalam safety box, tas, koper, speaker, sepatu, kulkas, body pack, handphone, ataupun tubuh. Umumnya Narkotika tersebut akan dikirimkan ke wilayah Jakarta, Medan, Palembang, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, dan Makassar.

Selain itu juga berhasil diungkap lima clandestine laboratory yang terletak di Jakarta, Depok, Jepara, Surabaya dan Tulung Agung. Dari ke-lima tempat tersebut berhasil diperoleh barang bukti 30 kilogram shabu, bahan – bahan kimia seberat 14 ton, tiga mesin cetak dengan kapasitas 500 ribu butir perhari, serta tujuh paket shabu siap edar seberat 49 gram.

B) Untuk jalur internasional, dari Januari hingga Desember 2009, berhasil diungkap 20 kasus dengan rincian tersangka 4 orang WN Malaysia, 1 orang WN Cina, 1 orang WN Indonesia, 1 orang WN Turki, 1 orang WN Singapura, 1 orang WN India, dan 36 orang WN Iran. Dari ke-36 orang tersebut, 25 orang tertangkap di Bandara Soekarno - Hatta, 7 orang di Bandara Ngurah Rai, dan 4 orang di Bandara Juanda. Barang bukti keseluruhan yang disita berupa 70.377 gram shabu kristal, 22.800 mililiter shabu cair, 19.950 butir ekstasi, dan 27.800 gram ketamine. Modus operandi yang digunakan adalah dengan menyembunyikan dalam kotak makanan, permen, susu, paket, tas tangan atau koper. Selain itu juga dengan cara menyembunyikan dalam lilitan kain di kedua kaki.

2. Primary demand reduction (aktualisasi partisipasi masyarakat)

Guna mendorong partisipasi masyarakat dalam menekan penyalahgunaan Narkotika, juga telah dilaksanakan berbagai kegiatan preventif, antara lain sebagai berikut :

A. Lomba “Kampung Kite Bersih Narkotika” untuk tingkat DKI Jakarta, yang diikuti oleh 150 kampung atau tingkat rukun warga dari lima kotamadya di DKI Jakarta. Lomba ini mempersyaratkan beberapa indikator, antara lain berbagai aktivitas kemasyarakatan atau pemanfaatan media ruang lingkungan dalam hal menimbulkan kesadaran masyarakat untuk ikut serta mencegah peredaran Narkotika. Dalam lomba ini Kelurahan Galur – Jakarta Pusat terpilih sebagai juara pertama.

B. Penyuluhan dan penerangan tentang bahaya penyalahgunaan Narkotika di 33 propinsi kepada berbagai lapisan masyarakat, seperti lingkungan pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, instansi pemerintah dan swasta, para ibu, mahasiswa, pelajar, LSM, dan pemuda. Selain itu juga dilaksanakan upaya pemberdayaan masyarakat yang melibatkan 3.220 orang yang berasal dari lingkungan pendidikan, tenaga kerja, media massa, dan penyandang cacat.

Sedang bagi para pengambil kebijakan di tingkat pusat dan wilayah, BNN telah melaksanakan upaya advokasi kepada pihak lapas dan rutan, kalangan pendidik, tokoh agama, dan mahasiswa. Ketiga program ini di-orientasikan untuk mendorong kesadaran dan peran aktif masyarakat serta potensi masyarakat dalam upaya P4GN.

C. Pada level komunitas, kami juga telah melakukan sosialisasi bahaya penyalahgunaan Narkotika pada even Djakarta Vespa Festival, yang dihadiri oleh lebih dari 10.000 pengguna Vespa.

D. Sedangkan bagi mereka yang termasuk golongan beresiko tinggi, telah dilakukan program pembangunan altertanif atau alternative development di perkotaan bagi masyarakat di wilayah Kampung Ambon – Jakarta Barat atau Kampung Permata serta para pemusik jalanan yang tergabung dalam Kopi Jalan atau Komunitas Penyanyi Pinggir Jalanan.

E. Di bidang diseminasi informasi, BNN telah melakukan upaya seperti pameran informasi Narkotika, Forum Silaturahmi Media Massa Anti Narkotika di Medan dan Bali, Forum Diskusi Jurnalis Pemerhati Narkotika, penayangan iklan layanan masyarakat di media cetak maupun elektronik, penerbitan Jurnal BNN, penyebaran brosur, leaflet, stiker, poster, VCD, dan pin secara gratis, pemberian penghargaan P4GN tingkat nasional, propinsi maupun kabupaten / kota serta pemilihan Duta Anti Narkotika.

F. Di bidang informasi dan teknologi, kami juga telah menyempurnakan pelayanan kepada masyarakat melalui website www.bnn.go.id. Hal ini ternyata mendapat atensi khusus dari pemerintah, khususnya Menteri Komunikasi dan Informatika yang kemudian memberikan penghargaan kepada website BNN sebagai website terbaik atau Juara 1 untuk kategori departemen / lembaga negara dalam Lomba Anugerah Media Humas yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah Pusat atau Bakohumas.

3. Demand reduction (penyembuhan penyalahguna Narkotika)

Demand reduction di-implementasikan dalam kegiatan terapi dan rehabilitasi korban penyalahgunaan Narkotika di Lido - Sukabumi. Jumlah pasien atau residen yang tercatat saat ini berjumlah 449 orang. Dalam upaya menjangkau para pecandu yang ingin mendapatkan proses rehabilitasi, BNN juga menerapkan sistem “jemput bola”, melalui satgas penjangkauan dan pendampingan. Selama tahun 2009, telah berhasil dijangkau sebanyak 249 pasien yang berasal dari 22 propinsi di Indonesia.

Untuk tahun 2010, UPT Lido akan memfokuskan pada peningkatan sumber daya manusia, khususnya posisi konselor, yang diangkat dari mantan pecandu Narkotika. Adapun perbandingan jumlah konselor dan residen saat ini sekitar 1 banding 10.

Kegiatan - kegiatan lain di bidang terapi rehabilitasi yang telah dilaksanakan, yaitu :

A. Family support group, untuk memberikan pemahaman dan keterampilan praktis bagi orang tua dan keluarga dalam mendukung kesembuhan para pecandu.

B. Recovery dari segi sosial bagi para pecandu, Narkotika melalui kegiatan bermusik dan olahraga sepakbola.

C. Pengembangan sistem dan metode dengan memberikan akses kunjungan untuk keperluan penelitian, studi banding ataupun konsultasi seputar upaya penanggulangan korban Narkotika. Selama tahun 2009 UPT Lido telah menerima kunjungan yang berasal dari berbagai instansi, seperti badan propinsi, badan kabupaten / kota, yayasan, organisasi keagamaan, anggota DPRD, perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan pemerintah negara asing.

Disamping ketiga hal di atas, BNN telah melakukan beberapa upaya pendukung lainnya seperti :

1. Penelitian

Sebagaimana tujuan penelitian umumnya, berbagai fakta penelitian bermanfaat bagi pengambilan keputusan dalam bentuk strategi, kebijakan dan implementasi strategi, berupa program dan kegiatan. Beberapa penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2009, yaitu :

a. Survey nasional perkembangan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika pada kelompok pelajar dan mahasiswa.

b. Penelitian tentang pasien korban penyalahguna Narkotika pada tempat terapi rehabilitasi Narkotika di 13 propinsi.

c. Penelitian tentang tingkat penyalahgunaan Narkotika di lingkungan pekerja pada 10 propinsi.

d. Sembilan penelitian mengenai efektifitas metode penyembuhan Narkotika kepada para residen di UPT Terapi dan Rehabilitasi bnn. Penelitian ini dilakukan oleh staf UPT TR BNN dan para mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi.

2. Pengembangan kelembagaan

a. Amandemen undang-undang Narkotika dan Psikotropika menjadi Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pada tanggal 12 Oktober 2009. Melalui undang – undang ini pemerintah telah memperkuat kelembagaan BNN menjadi lembaga pemerintah non kementerian yang memiliki kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. Dalam pasal 66 undang - undang tersebut dijelaskan bahwa BNN provinsi dan BNN kabupaten / kota merupakan instansi yang vertikal dengan BNN pusat. Dengan adanya ketentuan ini diharapkan mampu menekan peredaran penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika di daerah.

b. Penandatangan nota kesepahaman BNN dengan Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan mengenai upaya P4GN di lapas dan rutan.

c. Penandatangan nota kesepahaman BNN dengan enam universitas di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mengenai program alternative development.

d. Pembentukan satgas-satgas pemberantasan Narkotika di 5 wilayah, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Utara.

1. Alternatif development

Pembangunan alternatif atau alternative development yang bertujuan untuk menekan laju peredaran gelap Narkotika telah dilaksanakan di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dimana tanaman ganja diganti dengan jenis tanaman sayur-sayuran, umbi-umbian serta peternakan kambing boer, yang dianggap memiliki nilai ekonomis dan produktif. Melalui program yang telah dimulai sejak tahun 2006 ini diharapkan masyarakat Aceh tidak lagi bertanam dan memperdagangkan ganja secara gelap, sehingga membantu akselerasi program P4GN.

Selama tahun 2009, telah dilaksanakan kegiatan survey tanah, tanaman pengganti, infrastruktur serta studi pasar dan ekonomi pada lima kecamatan di Kabupaten Aceh Besar. Selain itu juga terus dilakukan diseminasi informasi kepada masyarakat Aceh mengenai program ini melalui berbagai kegiatan kampanye dan seminar.

Selain gambaran mengenai berbagai kinerja di bidang P4GN, disampaikan juga hambatan yang ada serta kunci keberhasilan yang dapat menjadi modal dalam pelaksanaan tugas ke-depan, sebagai berikut :

1. Hambatan

A. Kurangnya koordinasi dan kesinergian para anggota BNN dalam pelaksanaan program P4GN, karena masih adanya egoisme sektoral.

B. Mekanisme kerja koordinator satgas yang belum jelas, sehingga belum tercipta keterpaduan dalam pelaksanaan tugas.

2. Kunci keberhasilan

A. Mengoptimalkan tersedianya ruang bagi publik untuk menyampaikan aspirasi, komentar, pengaduan ataupun sarana yang dapat mewadahi peran aktif mereka melalui berbagai media seperti call center dan suara masyarakat di website BNN.

B. Memaksimalkan upaya penjangkauan bagi para pecandu Narkotika untuk mendapatkan proses rehabilitasi, dengan mengutamakan peran puskesmas dan partisipasi masyarakat.

C. Dukungan optimal dari pihak legislatif dan eksekutif dalam upaya penanggulangan bahaya Narkotika, melalui amandemen undang-undang dan psikotropika serta penguatan kelembagaan BNN.

Hadirin yang saya hormati,

Mengakhiri informasi ini, kami ingin mengajak semua pihak untuk mewujudkan komitmen moral secara konsisten dalam melaksanakan upaya P4GN, dalam bentuk apapun dalam mewujudkan Indonesia Bebas Narkotika yang menjadi ilustrasi keselamatan bangsa merupakan harapan generasi kita di masa yang akan datang.

khusus kepada media massa dan rekan-rekan wartawan yang selama ini telah banyak membantu membuka akses informasi publik, saya menyampaikan apresiasi yang tinggi dan terima kasih, serta mengharap dukungan yang lebih solid dalam memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika di masa yang akan datang.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya, serta memberi kekuatan kepada kita semua dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab demi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Wabillahi taufik walhidayah,

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Kepala Badan Narkotika Nasional

ttd

Drs. Gories Mere