KONTAK CENTER BNN  .    callcenter@bnn.go.id  .    (021) 80880011  .  SMS/Whatsapp   081-221-675-675  .  BBM   2BF297D7

Artikel

Time Line @INFO BNN

Menularkan Kecanduan Menulis

Mari berbagi :    

Bagi sebagian orang, menulis adalah bentuk pelarian akan kejumudan pikiran dan kehidupan. Biasanya mereka menuliskan pengalaman dan harapannya dalam sebuah buku harian. Sayangnya dalam tataran ini, buku harian hanya menjadi sebuah rahasia diri sang penulis itu sendiri tanpa mau diketahui orang lain. Beruntunglah orang seperti Soe Hok Gie (Catatan Harian Seorang Demonstran), Ahmad Wahib (Pergolakan Pemikiran Islam) ataupun Tan Malaka (Dari Penjara ke Penjara) yang buku hariannya itu akhirnya dipublikasikan setelah kematiannya. Tiga orang ini, tanpa mereka sadari telah mencerdaskan masyarakat lewat tulisan-tulisannya yang terangkum dalam buku hariannya itu.

Sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan: “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan lenyap ditelan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Pendek kata, orang boleh saja mati, namun “Nama Orang” akan tetap dikenang lewat karya atau tulisannya.

Melihat tantangan itu, Jum’at kemarin tanggal 3 Maret 2017 Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido Bogor mengadakan seminar “Creative writing” yang dihadiri oleh tiga penulis terkenal, yaitu; Ahmad Fuadi, penulis Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara, Beasiswa 5 Benua, Berjuang di Tanah Rantau. Penerima beasiswa Fullbright USA, dan Chevening, UK.

Kedua, Nova Riyanti Yusuf (NoRiYu), PhD candidate FKM UI, Research Fellow Harvard University, Inisiator UU Kesehatan Jiwa, Ketua PDSKJI Jaya. Penulis Imipramine, 30 Hari Mencari Cinta, Libido Junkie, Stranger Than Fiction, Atas Nama Jiwa, The Passage of Mental Health Law, dll. Dan terakhir, Miftah Nur Sabri Sutan Mangkudun, Pendiri dan CEO Selasar.com, Alumni FISIP UI, Mahasiswa Unhan.

Menulis Sebagai Obat


Dalam seminar itu, atau lebih tepatnya “Motivation Training” bagi residen (pecandu narkoba yang sedang mengikuti terapi rehabilitasi), para penulis mengajak untuk melepaskan kecanduan narkoba dengan mengalihkan perhatiannya kedalam dunia tulis menulis. Ahmad Fuadi misalkan, penulis yang berasal dari Maninjau Sumatera Barat ini memberikan tips dalam menulis. Menurutnya, menulis adalah mengobati diri sendiri dan menulis adalah sebuah kekuatan yang kita punya. Menulis bisa dijadikan obat ataupun pelampiasan emosi dalam diri. Fuad mengisahkan bagaimana pengalamannya harus  “dipaksa” oleh orang tuanya untuk mondok di sebuah pesantren di Jawa Timur di usianya yang baru menginjak umur 15 tahun. Saat itu dirinya memberontak walaupun akhirnya menyerah dan kisah hidupnya itu bisa kita baca dalam novelnya yang menjadi magnum opus, “Negeri 5 Menara”.

Fuad memberikan tips bagaimana kiat menulis bagi para pemula yang dimulai dari hati bukan dari pikiran. Hal ini dikarenakan hati itu tidak pernah bisa berbohong, sedangkan pikiran bisa berbohong. Jadi tulisalah apa yang sebenarnya. Untuk ini, Fuad menyarankan untuk memulai dengan menulis bentuk fiksi. Karena menurutnya itu adalah bentuk karangan yang penuh dengan imaginasi. Penulis yang handal adalah penulis yang bisa melupakan daya imaginasinya semaksimal mungkin.

Tulisan yang baik menurut Fuad, adalah tidak berakhir dalam lembar kertas saja. Namun tulisan itu bisa pindah ke medium lainnya. Misalkan, apa yang ia tulis dalam Novel “Negeri 5 Menara” akhirnya bisa menjadi sebuah film. Novel ini juga mengantarkannya memperoleh beasiswa dari luar negeri. Awalnya memang Fuad tidak mengira novelnya itu akan bermetamorforsis menjadi bentuk lain ataupun sebagai perantara dirinya dengan dunia lainnya.

Terakhir, Fuad berpesan “Man jadda wa jadda” (Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil). Intinya adalah semangat yang harus ditanamkan dari dalam diri sendiri. Melebihkan usaha diatas rata-rata orang lain. Para residen yang ada di Lido Bogor sejatinya telah memiliki modal semangat untuk terbebas dari narkoba. Tinggal selanjutnya adalah memepertahankan modal ini dan menyalurkan ke hal-hal yang positif yang salah satunya dengan menulis.

Menulis Karena Cinta


Pembicara selanjutnya adalah Miftah, Pendiri dan CEO selasar.com yang lebih banyak menerangkan makna filosofis tentang menulis. “Tulislah dengan Cinta”, begitu Miftah memulai bahasannya. Menurutnya, cinta adalah “drug”nya Tuhan bagi manusia. Dengan kata lain, Tuhan memberikan “drug” (stimuli/rangsangan) kepada manusia dalam bentuk cinta. Walaupun pada akhirnya menurut Miftah, Cinta tertinggi adalah cinta seseorang pada diri sendiri.

Mengutip pendapat Plato, cinta itu diawali melalui proses romantik platonic. Ia bergerak ke sisi hasrat (desire), melangkah lagi kepada titik penderitaan (passionate), kemudian bergerak lagi ke sisi diri sendiri berujung pada Tuhan yang Maha Agung. Sesuai dengan Pemikiran Plato mengenai konsep ideal yang hanya ada dalam alam pikiran, maka “Cinta Platonis” merupakan pandangan plato tentang cinta yang paling ideal, atau cinta yang sempurna seperti konsep cinta diatas. Cinta Platonis ialah cinta yang hanya ada di dalam angan-angan (dalam pikiran). Cinta yang tidak diungkapkan pada siapapun, menjadi cinta paling misterius, cinta dalam diam, yang tidak dikatakan pada orang lain, atau kepada orang yang dicintai itu. Maka, berdasarkan konsep pemikiran Plato, sebuah cinta yang telah diungkapkan, maka cinta itu sudah tidak lagi menjadi cinta yang ideal atau sudah tidak lagi menjadi cinta sejati.

Bagi Miftah, dengan kekuatan Cinta seperti diataslah yang menggerakan seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Baik itu positif ataupun negatif, seperti menggunakan narkoba. Walaupun demikian, Miftah mendorong para residen untuk menyalurkan energi cinta yang meluap-luap ini kedalam bentuk tulisan. Apalagi mereka sudah mempunyai pengalaman diri dalam hal pergulatan dengan narkoba.

Panduan Miftah bagi penulis awal, hendaknya menulis dengan judul bombastis. Karena judul yang demikian dapat merangsang orang untuk membaca tulisan kita. Dalam permasalahan tulisan itu baik atau buruk untuk dibaca, itu tergantung latihan. Bahkan mengutip Gus Dur, orang yang pernah menderita (passion) karena cinta maka bentuk tulisannya akan bagus. Yang lebih utama, Miftah akan memfasilitasi dan membimbing setiap karya tulisan residen melalui selasar.com

Menulis untuk jiwa


Pembicara terakhir, Noriyu yang merupakan dokter spesialis kejiwaan ini lebih condong untuk menjelaskan hakikat menulis dalam pendekatan psikologis. Noriyu menjelaskan tentang konsep Agresi dari Sigmund Freud. Agresi itu sendiri sederhananya merupakan setiap tindakan yang dilakukan untuk menyakiti atau melukai orang lain. Namun, harus dibedakan antara perilaku dengan niat menyakiti karena tidak gampang mengetahui niat orang lain. Jika agresi dilengkapi dengan niat maka tindakan tersebut menjadi bermakna. Agresi cenderung stabil dalam rentang hidup, karena orang yang relative tidak agresif cenderung tetap demikian dan begitu sebaliknya (Huesmann & Moise, 2000).

Freud (1930) berasumsi bahwa kita memang memiliki naluri untuk bertindak agresif. Menurut teori insting kematian (thanatos) yang digagasnya dapat mengarahkan pada diri sendiri atau orang lain.Meski freud mengakui bahwa agresi dapat dikontrol, dia berpendapat bahwa agresi tidak bisa dieliminasi karena agresi merupakan sifat alamiah manusia.

Tiada seorang pun bisa menciptkan ruang dalam diri kecuali diri sendiri. Ruang tersebut bisa diciptakan selama mampu melakoni perjalanan ke dalam diri. Ruang ciptaan sendiri juga digunakan untuk diri sendiri. Ruang yang amat sangat privat tetapi sungguh powerfull untuk melakoni kehidupan yang penuh semangat dan ceria. Kunjungi ruang yang kita ciptakan tersebut sesering mungkin. Semangat yang diperoleh di ruang tersebut memiliki kemampuan dahsyat untuk mengatasi gangguan hati dari indrawi.

Dalam kaitannya dengan menulis, Mantan Anggota DPR RI ini lebih mengutamakan agresifitas yang ada dalam diri setiap orang untuk berbuat ke hal-hal yang berguna. Menurutnya, menulis merupakan penyediaan ruang untuk diri sendiri. “Ruang” yang selama ini banyak diisi oleh penyalahgunaan narkoba itu harus dikosongkan, untuk ditata ulang, dan diganti dengan hal yang lebih bermakna. Mungkin untuk memulainya agak berat tetapi bisa dilakukan dengan mulai menuliskan semua kisah yang dialami oleh para pecandu. Noriyu menitik beratkan untuk memberikan ventilasi atas ruang dalam diri kita yang berbentuk kreativitas.

Bagi Noriyu, menulis adalah modal investasi untuk masa kini dan masa depan. Tulisan akan lebih bermakna jika dipublikasikan dan dibaca oleh orang. Apalagi menulis tentang diri sendiri. Contohnya Noriyu yang menuangkan pengalaman pribadinya dalam novel yang berjudul “Mahadewa Mahadewi” (Gramedia Pustaka Utama, 2003). 

Sebetulnya, dari ketiga narasumber ini menjelaskan tentang motivasi menulis. Namun untuk memulai sebuah tulisan, bagi awam akan mengalami sedikit kesulitan. Biasanya tahap ini dimulai dengan kesukaran menuangkan ide menjadi tulisan. Miftah mungkin sudah memberikan solusi unutk menulis di selasar.com. Tapi orang tidak sadar bahwa perkembangan media sosial di Indonesia dewasa ini telah mengantarkan setiap orang menjadi seorang penulis. Setiap orang yang memiliki akun sosial pastilan akan menuliskan pikirannya dalam bentuk status di facebook, atau cuitan di twitter. Intinya pada dalam diri kita sejatinya adalah penulis, bukan ?

Lido, Bogor Maret 2017

Penulis:

Oleh Afib Rizal, S.Sos, M.I.Kom


  Ikuti Kami di Sosial Media

Kami berupaya untuk membuka kanal Sosial Media sebanyak mungkin agar selalu terhubung dengan Anda.

  Kontak Kami
  Alamat

Jl. MT. Haryono No. 11
Cawang, Jakarta Timur

Phone : (021) - 80871566 / 80871567
Mail : callcenter@bnn.go.id