KONTAK CENTER BNN  .    callcenter@bnn.go.id  .    184  .  SMS/Whatsapp   081-221-675-675  .  BBM   2BF297D7

Artikel

Time Line @INFO BNN

Kemeja Jokowi Mendobrak Mentalitas Priyay

Mari berbagi :    

Oleh : Afib Rizal
Tulisan ini dimuat di Majalah Warta LAN RI edisi 43 Tahun 2017 halaman 45-49


Pasca era reformasi, pandangan masyarakat Indonesia terhadap Profesi PNS (sekarang ASN) sudah berubah 180 derajat. Dahulu, PNS merupakan profesi yang paling tidak diminati karena melihat kesejahteraan sebagai PNS relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan bekerja di sektor swasta. Barulah pada era Gus Dur menjadi Presiden, dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 Tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil Sebagaimana Telah beberapa kali diubah Terakhir Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1997. Imbas dari dikeluarkannya PP diatas adalah meningkatnya kesejahteraan PNS (gaji). Sampai sekarang sudah banyak PP yang mengatur kesejahteraan gaji PNS sampai terakhir PP Nomor 34 tahun 2014.


Tak dipungkiri kemudian bahwa pada akhirnya menjadi seorang PNS merupakan idaman bagi setiap warga negara. Pendek kata, Profesi PNS telah menajadi “The Indonesian Dream”, impian setiap warga negara Indonesia. Hal ini bisa dilihat ketika rekrutmen CPNS dibuka, 1 formasi yang dibutuhkan bisa di minati oleh ribuan pelamar kerja. Salah satu hal penting yang mendorong para pelamar itu ialah faktor kepastian. Fenomena ini kelihatan wajar karena menjadi PNS berarti kesejahteraan material terpenuhi, sulitnya diberhentikan dari pekerjaan, hak pensiun, sampai kemudian masalah jam bekerja setiap harinya yang relatif lebih ringan. Tidak heran kemudian bahwa PNS sering dipelesetkan menjadi “Pegawai Nyaman Sekali”.


Sayangnya sejak kenaikkan kesejahteraan diatas justru berbanding terbalik dengan kinerja dari beberapa oknum PNS itu sendiri yang masih belum profesional. Bahkan di media sosial sejak beberapa tahun lalu muncul berbagai akronim yang menyindir PNS yang memiliki banyak “penyakit”. Seperti :

A.Penyakit yang berhubungan dengan kehadiran di kantor

1.AIDS : Alpa, Ijin, Dikit-dikit Sakit

2.Pucat Pasi: Pulang Cepat Padahal maSihpagI

3.Kudis: KUrang DISiplin.

B.Penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan

1.Asam Urat: Asal SAMpai kantor,URing-uringan Atau Tidur

2.Asma: ASal Mengisi Absen

3.Batuk: BAnyak nganTUK

4.Campak:Cari Muka Pakai Alasan Kerja

5.Ginjal: Gaji Ingin Naik tapi kerJA Lambat

C. Penyakit yang berhubungan dengan profesionalisme

1.Kurap: KURAng Profesional, atau KUrang RAPih (dalam hal berpakaian)

2.TBC: Tidak Bisa Computer

3.Panu: Piket Asal NUlis

4.Kram: Kurang teRAMpil

5.Kutil: Kurang Teliti

6.Flu: Facebook meLUlu (saat jam kerja)

Penyebab 14 penyakit tersebut di atas adalah KUMAN : KUrang iMAN. Penyakit yang sering mendapat sorotan dari masyarakat adalah penyakit yang berhubungan dengan profesionalisme. Lebih dari itu semua, sebenarnya permasalahan PNS dari masa ke masa adalah masih tertanamnya Mental Priyayi dari dalam diri sehingga “penyakit” itu masih belum bisa disembuhkan. Bahkan sampai Presiden Jokowi saat menjadi pembina upacara pada HUT Korpri ke-43 di Silang Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Senin (1/12) mengingatkan kepada ASN untuk meninggalkan mental Priyayi. “Tanggalkan mentalitas priyayi atau penguasa. Jadilah birokrat yang melayani dan mengabdi dengan sepenuh hati untuk kejayaan bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia.” Mental Priyayi

Di masa pemerintahanya, Jokowi ingin merubah mentalitas Priyayi diatas. Walaupun sejatinya tidak begitu jelas benar apa itu mentalitas priyayi, bisa berwujud mentalitas feodal atau juga mentalitas untuk selalu diladeni, dihormati, dan dipuji. Pada awalnya mental ini timbul terutama berakar dari bekas bekas pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Priyayi dimasa Hindia Belanda ataupun zaman feodalisme kerajaan merupakan kaum dengan kasta sosial yang lebih tinggi atau sering disebut kaum bangsawan yang mengambil jarak sosial dengan masyarakat kebanyakan.
Apreyvita Wulansari (2013) menyebut, Status kelas priyayi ini ditandai dengan gelar kehormatan yang disandang. Raden mas dan raden ajeng merupakan gelar keturunan dengan raja sampai dengan garis keturunan yang ke-4. Selain itu, terdapat pula raden tumenggung, pangeran sengkan, atau raden adipati merupakan gelar atas jabatan yang disandang. Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat pula jabatan bupati, wedana, dan asisten wedana yang merupakan jabatan yang diperoleh berdasarkan keturunan dengan raja. Priyayi ini disebut priyayi ningrat. Selain itu, status priyayi dapat diperoleh melalui perkawinan. Misalkan jika seorang wanita biasa (wong cilik) menikah dengan bupati atau menjadi selir (istri ampeyan) akan mendapatkan gelar mas nganten, mas ajeng atau mas ayu, sedangkan permaisuri bergelar raden ajeng.
Akan tetapi, kolonialisme barat di Indonesia menyebabkan anggota kelas priyayi berkembang. Anggota kelas priyayi mencakup pula wong cilik (rakyat kecil) yang direkrut ke dalam birokrasi pemerintahan kolonial Belanda. Bahkan, pemerintah kolonial berhak mengatur pemberian gelar dengan mengeluarkan peraturan RR 69. Akibatnya, pada tahun 1900-an priyayi mencakup asisten wedana, seperti jaksa, pengawas irigasi, mantri kadaster, polisi, pegawai pegadaian, pengawas candu, serta jabatan mentri. Tak hanya itu, juru tulis dan magang pun digolonglkan sebagai anggota kelas priyayi.


Berdasarkan penjelasan tersebut terdapat penggolongan priyayi menjadi priyayi ningrat dan priyayi biasa. Status priyayi ningrat diperoleh berdarkan keturunan dengan raja, bangsawan.
Status priyayi biasa diperoleh berdasarkan fungsi birokrasi, bukan keturunan dengan raja. Dalam hal ini, wong cilik memiliki kesempatan meraihnya. Selain itu, melalui perkawinan dengan penyandang satatus priyayi, wong cilik pun berkesempatan memperoleh status priyayi.
Status kepriyayian tersebut, baik yang melaui keturunan maupun tidak, dapat diketahui dari gelar yang disandang. Raden merupakan gelar priyayi keturunan dengan raja maupun bangsawan kerabat raja. Mas adalah gelar yang diperoleh bukan berdasarkan keturunan dengan raja atau bangsawan kerabat raja. Dalam hal ini, wong cilik yang berhasil memperoleh status, baik dengan perkawinan maupun rekrutmen fungsi birokrasi pemerintahan, dapat berkesempatan menyangdang gelar tersebut.


Kaum Priyayi disini mereka menggap dirinya kedudukan lebih tinggi sehingga mereka pantas dan layak untuk dihargai. Disini dapat kita lihat bahwa Status Priyayi melekat kepada seluruh aparat birokrasi dari yang jabatan paling rendah sampai jabatan tinggi. Sedangkan antropolog asal Amerika Serikat, Clifford Geertz membuat sebuah penilitian yang akhirnya dibuat menjadi buku yang berjudul “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa”. Dr.Geertz berasumsi bahwa kaum priyayi adalah kaum yang menekankan aspek-aspek Hindu dan diasosiasikan dengan unsur birokrasi. Melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka merupakan penduduk kota. Di masa
lampau, mereka dianggap merupakan bagian dari aristokrasi keraton. Istilah priyayi mengacu kepada orang-orang dari kelas sosial tertentu, yang menurut hukum merupakan kaum elite tradisional. Ia mengacu kepada orang-orang yang menurut hukum dianggap berbeda dari rakyat biasa.

Lain pula kritik yang disampaikan oleh Sastrawa Pramoedya Ananta Toer yang menulis tentang struktur Priyayi dari berbagai novelnya. Menurut Pram, priyayi adalah golongan yang menhindarkan diri dari tanggung jawab sosialnya dan menikmati kebudayaannya yang selalu dipuji dengan mendzalimi dan “menghinakan” sesama manusia. Ia juga secara terang-terangan mencoba menggambarkan dunia kepriyayian yang penuh kesewenang-wenangan tak berperasaan. Priyayi dalam gambaran Novel-novelnya bisa berupa orang Indo keturunan ataupun masyarakat pribumi yang memiliki kekuasaan birokrasi. Sehingga dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, mereka adalah pihak yang harus dihormati, diladeni, ataupun segenap puji-pujian yang menyangkut diri.

Bahkan dalam novel “Bumi Manusia”, Pram mengkritik golongan priyayi ini dalam hal tata krama untuk bertemu. Digambarkan bahwa orang yang ingin ketmu harus menyembah terlebih dahulu dengan sikap mengatupkan kedua tangan di atas hidung. Ataupun pada saat sang priyayi ini memberikan wejangan, bawahan atau rakyat harus berdiri dengan sikap “ngapurancang” yaitu sikap santai disertai rasa hormat dengan berdiri dimana tangan berada di bawah pusar, kaki direnggangkan, sikap santai disertai rasa hormat. Jika tangan yang di bawah pusar tadi tangan kanannya dipegang dengan tangan kiri.


Kemeja Putih Jokowi
Budaya atau mentalitas Priyayi dengan steorotip negatif diatas, perlahan mulai di dobrak oleh Seorang Jokowi. Sebagai seorang pemimpin, Jokowi menerapkan falsafah Jawa “Ing ngarsa sung tuladha”. Filosofi ini memiliki arti bahwa seseorang yang berada di garis depan atau seorang pemimpin, harus bisa memberi contoh kepada bawahannya. Seorang pemimpin akan dilihat oleh bawahannya sebagai panutan. Bawahan ataupun rakyat tidak hanya memperhatikan perilaku dari seorang pemimpin secara pribadi. Namun juga meliputi sejauh mana nilai-nilai budaya organisasi telah tertanam dalam diri pemimpinnya, sejauh mana pemimpin berkomitmen terhadap organisasi, sampai kerelaan seorang pemimpin untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, sepatutnya seorang pemimpin memiliki karakteristik-karakteristik yang dapat menjadi teladan untuk rakyatnya. Pemimpin yang baik harus bisa memberikan inspirasi, kahrisma, dan mengayomi.
Jokowi tidak ingin terjebak dalam idiom hanya bisa memberikan perintah tapi tidak bisa melakukan dalam tindakan. Maka hal yang paling kelihatan sepele dilakukan Jokowi adalah pemakain kemeja putih celana hitam dalam kesehariannya memimpin republik ini. Dalam pengamatan penulis, Jokowi mulai menggunakan Kemeja Putih lengan panjang dan celana hitam sejak menjabat sebagai Walikota di Solo. Kebiasaan ini kemudian berlanjut ketika ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan diteruskan hingga sekarang sebagai Presiden. Walaupun pernah setelah dilantik menjadi Presiden, Jokowi menggunakan baju safari. Kemeja putih celana hitam Jokowi adalah benda (pakaian) yang tidak berdiri sendiri. Ia bukan lantas menjadi trend dalam pemakaianya. Namun lebih dari itu semua, Baju itu memiliki makna dan menyimbolkan sesuatu. Susanne Langer (1895-1985) memperkenalkan apaya yang disebut sebagai Teori Simbol (Tradisi Semiotik: Pesan). Dalam pengertian Langer, simbol digunakan dengan cara yang lebih kompleks dengan membuat seseorang untuk berfikir tentang sesuatu yang terpisah dari kehadirannya. Sebuah simbol adalah “sebuah instrument pemikiran”. Simbol adalah konseptualisasi manusia tentang satu hal; sebuah simbol ada untuk sesuatu. Sebuah simbol atau kumpulan simbol-simbol bekerja dengan menghubungkan sebuah konsep, ide umum, pola, atau bentuk. Menurut langer, konsep adalah makna yang disepakati bersama-sama diantara pelaku komunikasi. Bersama, makna yang disetujui adalah makna denotatif, sebaliknya gambaran atau makna pribadi adalah makna konotatif.


Menurut Langer, konsep adalah makna yang disepakati bersama di antara pelaku komunikasi. Maka dalam konteks ini, makna yang disepakati bersama disebut makna denotatif, sedangkan makna pribadi (subjektif) disebut makna konotatif. Secara lebih komprehensif, Langer memandang makna sebagai sebuah hubungan kompleks di antara simbol, objek dan manusia melibatkan makna denotatif dan konotatif. Simpulan akhirnya, simbol dalam konteks Teori Simbol Langer, menyimpan berbagai konsep, gagasan (ide) bahkan filosofi pemikirannya. Hanya saja, untuk memahami berbagai simbol-simbol yang ada di dunia ini, seseorang membutuhkan kejelian, interpretasi dan keleluasaan wawasan. Sehingga tidak semua orang yang memiliki prasyarat di atas mampu memaknai berbagai simbol yang ada, secara utuh.


Pada akhirnya, Kemeja putih ini sangat identik dengan Jokowi. Ibaratnya, kemeja putih telah menjadi Trade Mark diri dari seorang Jokowi. Jokowi yang notebene nya berasal dari Solo sangat menyadari makna sesungguhnya dari kemeja putih itu. Awalnya kemeja putih merupakan “seragam” tidak resmi yang dikenakan oleh masyarakat Jawa dalam kegiatan gotong royong untuk membantu warga lainnya yang memliki hajat (pesta) seperti Pernikahan, Khitanan, Tasyakuran, dan lain sebagainya. Dimana mereka memberikan bantuan tenaga untuk mengurus konsumsi dan kesibukan rumah tangga lain. Tradisi menggunakan Kemeja Putih celana gelap ini disebut sebagai “laden” atau “rewang”.


Tradisi “laden” atau “rewang” yang ada di dalam masyarakat tersebut dapat memiliki banyak dampak positif diantaranya menambah rasa kekeluargaannya dan dapat mempererat interaksi antar masyarakat. “Laden” atau “rewang” yang dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai meladeni atau melayani sangat cocok jika diterapkan kepada Birokrasi yang harus memiliki jiwa melayani masyarakat. Makna lainnya, Putih merupakan simbol kesederhanaan dan kesucian. Kemeja putih juga diinterpretasikan sebagai kemeja pekerja yang menandakan bahwa mereka siap untuk bekerja. Itulah setidaknya alasan di balik setiap kali pemakaian seragam itu. Apalagi Kabinet Jokowi sekarang disebut sebagai Kabinet kerja. Kabinetnya kabinet kerja, PNS juga harus giat bekerja, jadi pakaiannya harus sederhana, khas pakaian pekerja. Kebiasan Jokowi memakai kemeja putih dan celana gelap akhirnya di formalkan oleh hampir semual K/L melalui peraturan internal di masing-masing K/L untuk mengatur penggunaan kemeja putih bagi seluruh ASN di lingkungannya. Seperti Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 68 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Permendageri No. 60 Tahun 2007 Tentang Pakaian PNS di Lingkungan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah.


Di Kementerian Dalam Negeri ataupun Pemerintah Daerah, kemeja putih celana hitam dipakai untuk menggantikan pakaian Linmas yang berwarna hijau. Pakaian Linmas berwarna hijau identik dengan warna militer sehingga berpotensi menjaga jarak antara masyarakat dan PNS sebagai pelayan publik. Apa yang sudah dilakukan oleh Jokowi selama ini harusnya bisa diikuti oleh para PNS baik dari golongan terendah sampai dengan yang tertinggi. Jangan sampai terjebak ke dalam situasi bahwa keharusan memakai seragam putih-hitam tak lebih dari upaya pencitraan belaka. Pemerintah ingin terlihat bersih dan sederhana. Yang terpenting, tanggung jawab pemerintah melayani publik dipenuhi dengan baik.

Kebijakan pemakain pakaian putih hadir sebagai salah satu wujud dalam menerjemahkan kehendak Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal revolusi mental. Bahwa PNS harus bersih dan melayani, karena itu penting dilakukan secara maksimal. Termasuk mengadirkan simbol-simbol lewat baju putih, agar para PNS tetap meningkatkan pelayan kepada masyarakat. Memang sampai sekarang masih terlalu dini untuk melihat korelasi antara pemakaian kemaja putih dengan peningkatan kinerja. Namun setidaknya simbolisasi seragam yang sarat makna itu bisa sebagai pemaknaan awal bahwa birokrasi itu adalah pelayan masyarakat yang tugasnya melayani masyarakat. Jadi walaupun sangat kecil, apa yang dilakukan Jokowi sebetulnya adalah upaya untuk mendobrak mentalitas Priyayi dalam birokrasi itu sendiri, bukan ?.


  Ikuti Kami di Sosial Media

Kami berupaya untuk membuka kanal Sosial Media sebanyak mungkin agar selalu terhubung dengan Anda.

  Kontak Kami
  Alamat

Jl. MT. Haryono No. 11
Cawang, Jakarta Timur

Phone : (021) - 80871566 / 80871567
Mail : callcenter@bnn.go.id