CONTACT CENTER BNN  .    callcenter@bnn.go.id  .    184  .  SMS/Whatsapp   081-221-675-675  .  BBM   2BF297D7

Artikel

Time Line @INFO BNN

Kisah Pengungkapan Kiriman Narkoba dari Belgia untuk Napi Lapas

Mari berbagi :    

 

NARKOBA adalah zat yang secara nyata berbahaya bagi kehidupan manusia. Bukan hanya merugikan kesehatan, tapi juga berdampak negatif pada sektor lainnya.

Ketika uang narkoba mengalir kepada kelompok teror, maka narkoba dapat merusak pertahanan dan keamanan negara. Ketika narkoba menjadi alat para bandar untuk meraih kekuasaan politik, maka narkoba merusak sistem birokrasi dan ketatanegaraan.

Ketika narkoba dikonsumsi oleh generasi muda, maka narkoba merusak masa depan bangsa. Maka, negara tidak boleh kalah dengan beragam upaya penyelundupan narkoba dari luar negeri.

Selain ganja, praksis Indonesia adalah “importir” dengan volume tonan dan jutaan butir narkoba, khususnya narkoba sintetik jenis sabu dan ekstasi.

Selain jalur laut yang menjadi area favorit penyelundupan, jalur udara harus mendapat perhatian khusus.

Jalur udara adalah jalur eksekutif. Sementara masih terdapat jalur tikus di sepanjang perbatasan darat Indonesia–Malaysia di Kalimantan dan banyaknya jalur ilegal penyelundupan melalui laut, maka tidak ada jalur ilegal udara.

Semua bandara adalah objek vital (obvit) negara. Pengawasan dan pengamanan bandara mempunyai standar tinggi, baik bandara domestik ataupun internasional.

Bandara adalah area eksklusif yang setiap barang dan orang harus memenuhi syarat untuk memasukinya. Terdapat sistem pengamanan khusus dengan sistem khusus. Identifikasi orang dan barang dibuat sedemikian jelas.

Jika melihat angka-angka lalu lintas narkoba di bandara-bandara Indonesia belakangan ini, maka situasinya memprihatinkan. Tahun 2017, Badan Narkotika Nasional ( BNN) dan Bea Cukai (BC) mengungkap beberapa paket dari Jerman, Polandia, Hongkong, Malaysia, dan beberapa negara lainnya.

Sementara di tahun 2018, catatan penulis sampai bulan Juni 2018, BNN dan Bea Cukai berhasil mengungkap 8 pengiriman paket berisi narkoba jenis ekstasi dari Belgia. Delapan paket narkoba tersebut kesemuanya berisi ekstasi.

Dugaan awal, narkoba ekstasi tersebut berasal dari sumber produksi yang sama seperti paket narkoba dari Jerman dan Polandia pada tahun lalu. Produsen narkoba sangat mungkin terkait dengan jaringan produsen Belanda yang menjadi pusat produksi narkoba ekstasi di kawasan Eropa Barat.

Diketahui bahwa kasus 8 paket narkoba ekstasi dari Belgia tersebut dikirim dengan 8 nama pengirim yang berbeda. Begitu juga dengan nama dan alamat penerima.

Sementara kantor asal pengiriman terdiri dari empat alamat kantor pengiriman. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan jaringan EMS (kantor pos).

Deteksi dini paket narkoba

Apakah 8 paket tersebut menggambarkan bahwa 100 persen pengiriman paket berisi narkoba terdeteksi? Jawabannya adalah tidak 100 persen.

Berdasarkan informasi yang diperoleh penulis, delapan paket yang terdeteksi berhasil diungkap setelah dilakukan analisis data pengiriman sebelumnya.

Tidak semua barang yang masuk dilakukan proses pendeteksian, tentu dengan alasan-alasan yang logis. Proses pendeteksian dapat dilakukan berdasarkan pengembangan dan analisis data dan koordinasi antara BNN dengan Bea Cukai.

Jumlah narkoba ekstasi dari Belgia selama tahun 2018 sekitar 20.000 butir. Narkoba tersebut diduga akan diedarkan di wilayah Jabodetabek. Di tahun ini juga, BNN mengungkap pengiriman paket narkoba ekstasi dari Prancis dan Afrika Selatan.

BNN berhasil melakukan pengembangan kasus dengan menunjukkan jika para pemesan adalah narapidana di lapas. Mereka menggunakan telepon seluler yang digunakan untuk berkomunikasi dengan penyedia narkoba ekstasi di Belgia.

Mengingat situasi tersebut, perlu dilakukan penguatan dalam pengolahan data paket dari negara Belanda dan negara tetangganya. Dari data tersebut maka akan membantu analisis intelijen sehingga pencegahan, pencegatan, dan pengungkapan jaringan paket dapat dilakukan oleh penegak hukum.

Selama tahun 2017 – 2018, kasus pengiriman paket narkoba berasal dari 12 negara yaitu Belanda, Belgia, Prancis, Polandia, Jerman, Afrika Selatan, Malaysia, Hong Kong, India, Lagos dan Thailand.

Dari hasil penangkapan diketahui bahwa jaringan ini melakukan transaksi di pasar gelap online (dark web). Sistem pembayaran yang mereka gunakan juga menggunakan virtual money jenis Bitcoin.

Dengan menggunakan sistem tersebut, proses transaksi dilakukan antara buyer dan supplier secara langsung di dark web marketplace. Dalam transaksi sistem tradisional, proses transaksi dilakukan antara bandar yang sudah saling mengenal dan kepercayaan.

Namun, dengan sistem dark web marketplace proses transaksi dilakukan dengan sistem antara akun dan tidak saling mengenal karena akun-akun tersebut adalah akun palsu. Terdapat sistem pemeringkatan akun di dark web yang menunjukkan bahwa akun tersebut dipercaya atau tidak.

Rekomendasi

Bersama dengan Bea Cukai, BNN harus melakukan penguatan di bidang interdiksi udara mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penerbangan Internasional yang tinggi.

Penguatan interdiksi udara dilakukan dengan cara pendataan pengiriman paket dari negara-negara sumber dan negara-negara yang berpotensi sebagai sumber narkoba agar menjadi bahan analisis intelijen.

Data tersebut dapat dikomparasi dengan paket yang berisi narkoba. Semakin banyak data maka akan memudahkan bahan analisis untuk menemukan pengiriman paket narkoba dari negara-negara tersebut.

Pengecekan paket dari negara-negara yang mempunyai riwayat dalam pengiriman paket narkoba juga penting dilakukan dengan menggunakan peralatan narco-test yang berteknologi tinggi. Alat yang dapat mendeteksi partikel atau senyawa narkoba seperti yang dilakukan petugas di bandara-bandara besar.

Selain itu upaya koordinasi dan intelijen sharing dengan negara-negara yang menjadi sumber paket narkoba tersebut harus dilakukan untuk mengungkap lebih jauh jaringan para penyelundup narkoba melalui udara tersebut.

Indonesia adalah negara pasar narkoba. Artinya, Indonesia adalah korban dari perdagangan gelap narkoba.

Indonesia-lah yang harus aktif menuntut negara-negara sumber narkoba yang menjadi eksportir narkoba. Dengan dukungan data yang akurat, Indonesia seharusnya dapat berbuat lebih dan melakukan intervensi ke negara-negara tersebut.

BNN juga sudah seharusnya melakukan penempatan petugas BNN di bandara-bandara internasional yang bertugas melakukan pengumpulan data, analisis data, dan masukan atau rekomendasi kebijakan terhadap lalu lintas barang dan orang di bandara tersebut.

Upaya ini penting karena setiap bandara mempunyai sistuasi yang berbeda sehingga sistem penanganan penyelundupan juga akan berbeda.

Selain berupa kiriman paket barang, penyelundupan juga dilakukan oleh penumpang. Mereka menyembunyikan dengan berbagai cara di dalam tubuh mereka. Analisis terhadap penumpang juga harus dilakukan untuk menangani persoalan tersebut.

Fathurrohman

Analis Kejahatan Narkotika

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Pengungkapan Kiriman Narkoba dari Belgia untuk Napi Lapas", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/08/14/19452031/kisah-pengungkapan-kiriman-narkoba-dari-belgia-untuk-napi-lapas


  Ikuti Kami di Sosial Media

Kami berupaya untuk membuka kanal Sosial Media sebanyak mungkin agar selalu terhubung dengan Anda.

  Kontak Kami
  Alamat

Jl. MT. Haryono No. 11
Cawang, Jakarta Timur

Phone : (021) - 80871566 / 80871567
Mail : callcenter@bnn.go.id